TOGA (Taujih Untuk Para Pencari Ilmu bag.1)

25 11 2008

Toga, pakaian yang kita pakai sewaktu kita diwisuda dari sebuah institusi akademik. Betapa bangganya orang tua kita ketika melihat kita mengenakan pakaian “kebesaran” itu. Sampai sekarang, foto saya yang sedang mengenakan toga masih tetap dipajang di ruang tengah rumah orang tua saya :D.

Kebanyakan orang menyangka bahwa toga merupakan sebuah produk budaya dari peradaban Barat. Padahal, tahukah antum, toga merupakan warisan dari peradaban Islam yang agung di masa lalu. Toga merupakan pakaian yang diberikan oleh universitas-universitas Islam Andalusia bagi para penuntut ilmu di dalamnya yang telah dinyatakan berhasil lulus dari tempat tersebut. Ketika itu, para penuntut ilmu di universitas Islam Andalusia tidak hanya berasal dari kalangan Muslim. Banyak orang-orang non-Muslim Eropa yang juga menuntut ilmu di situ. Mereka adalah orang-orang pengagum peradaban Islam dan mencoba menggali ilmu di sana agar bisa dimanfaatkan di negerinya masing-masing. Ketika mereka telah lulus dari unversitas-universitas Islam tersebut, mereka kembali ke negeri mereka dengan sambil mengenakan pakaian toga. Mereka adalah orang-orang yang dibanggakan oleh bangsanya karena telah berhasil menuntut ilmu di unviersitas Islam. Dan toga, merupakan salah satu tanda bahwa mereka telah berhasil lulus dari universitas terbaik di masa itu.

Subhanallah…

Walaupun toga yang kita kenakan sewaktu di wisuda saat ini tidak langsung berasal dari universitas-universitas Islam di Andalusia, kita masih bisa tetap bangga terhadap produk kebudayaan Islam kita ini. Sebuah peninggalan dari sebuah peradaban agung yang berhasil memimpin dunia dalam waktu berabad-abad lamanya. . . yang kini sedang tidur dan menunggu untuk dibangunkan kembali oleh ummatnya. Tidak mudah untuk mengembalikan kejayaan Islam seperti masa itu lagi. Namun juga bukan berarti tidak mungkin. Yang seperti itu hanya bisa dilakukan oleh Muslimin yang mempunyai kebulatan ‘azzam dan kelurusan akidah, serta kesatuan langkah perjuangan,

Insya Allah.

Advertisements




Suatu Saat dalam Sejarah Cinta Kita

13 11 2008

suatu saat dalam sejarah cinta kita
raga tak lagi saling membutuhkan
hanya jiwa kita sudah lekat menyatu
rindu mengelus rindu

suatu saat dalam sejarah cinta kita
kita hanya mengisi waktu dengan cerita
mengenang dan hanya itu
yang kita punya

suatu saat dalam sejarah cinta kita
kita mengenang masa depan kebersamaan
kemana cinta kan berakhir
di saat tak ada akhir

(tulisannya Ust Anis Matta.  untuk sahabat-sahabat dekat di masa kuliah dulu,

Gibul, Fikri, Kang Imron, Jumadi –

semoga tetap enjoy ketika bertemu di waktu puluhan tahun yang akan datang, insya Allah)





Khutbah Rasulullah SAWW

4 11 2008

Khutbah Rasulullah SAWW di Jabal Rahmah 14 abad silam:

“Wahai umat manusia! Ketahuilah bahwa setiap nyawa dan harta seorang Muslim adalah suci, sesuci bulan dan tanah. Seorang Muslim tidak boleh mengambil hak milik saudaranya tanpa izin darinya. Kembalikanlah harta yang diamanahkan pada kalian kepada yang berhak. Janganlah kamu menzhalimi siapa pun, agar orang lain tidak menzhalimi kamu pula. Ingatlah bahwa sesungguhnya kamu akan bertemu Allah yang akan memperhitungkan segala perbuatanmu. Allah telah mengharamkan riba. Maka batalkanlah semua urusan yang melibatkan riba.

Berwaspadalah terhadap setan demi keselamatan agamamu. Karena dia telah berputus asa untuk menyesatkanmu dalam perkara-perkara besar, maka berjagalah agar kamu tidak mengikutinya dalam perkara-perkara kecil.

Wahai umat manusia! Sebagaimana kamu mempunyai hak atas istrimu, mereka juta mempunyai hak atas kamu. Jika mereka menunaikan hakmu, maka mereka berhak mendapatkan nafkah dalam suasana kasih sayang. Layanilah mereka dengan baik, dan berkemah-lembut lah terhadap mereka, karena sesungguhnya mereka adalah teman hidup dan penolong setiamu. Adalah hak kamu melarang mereka untuk tidak berselingkuh atau berzina.

Wahai umat manusia! Simaklah baik-baik pesanku ini. Sembahlah Allah, dirikanlah shalat lima kali sehari, berpuasalah di bulan Ramadhan, dan keluarkanlah zakat. Kerjakanlah ibadah haji sekiranya kamu mampu. Ketahuilah bahwa setiap Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain. Kamu adalah sama. Semuanya berasal dari Nabi Adam a.s., dan Adam dari tanah. Tidak ada seorang pun yang lebih mulia daripada yang lain kecuali dengan takwa dan amal shaleh.

Ingatlah, bahwa kamu akan menghadap Allah pada suatu hari untuk mempertanggungjawabkan apa-apa yang telah kamu kerjakan. Agar kamu tidak keluar dari jalan kebenaran sepeninggalku.

Wahai umat manusia! Tidak ada lagi nabi atau rasul sesudahku dan tidak ada pula agama baru. Oleh karena itu camkan dan pahamilah kata-kataku. Sesungguhnya aku tinggalkan bagimu dua pusaka. Sekiranya kamu berpegang pada dan mengikuti keduanya, niscaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Al-Qur’an dan Sunnahku.”

Khutbah Rasulullah SAWW diatas, merupakan rumusan cita-cita agung kemanusiaan
dan aktualisasi Islam sebagai resep hidup individu, sosial ekonomi maupun politik, yaitu Islam Kaffah
yang tidak berhenti pada keshalihan ritual semata, tetapi juga Islam yang mendatangkan keadilan dan kesejahteraan, Islam yang membuahkan harmoni
dan kasih sayang, Islam yang menjanjikan kebahagiaan dunia dan akhirat.





Maafkan, lalu Lupakan…

4 11 2008

Di dalam film yang berjudul Sang Murabbi (2008), KH. Rahmat Abdullah yang diperankan oleh Irwan Renaldi berkata kepada kakaknya (atau adiknya, saya lupa) yang sedang mempunyai masalah dengan dua orang preman teman menyabung ayamnya,

“Ada dua hal yang harus selalu kamu ingat, perbuatan baik orang lain terhadap kamu, dan perbuatan burukmu terhadap orang lain. Dan juga ada dua hal yang harus kamu lupakan, perbuatan buruk orang lain terhadap dirimu, dan perbuatan baikmu terhadap orang lain…”

Dua patah kalimat yang sederhana memang. Tapi itulah sebenarnya yang menjadi keluhuran akhlaq dan kunci komunikasi seorang Mukmin terhadap saudaranya yang lain, mudah memaafkan
dan berempati. Pada implikasinya, ternyata sepasang kalimat di atas tidak semudah mengucapkannya. Perlu kecerdasan emosi
yang tinggi untuk bisa melakukannya ^^. Kecerdasan emosi yang dibutuhkan pun akan berbeda, base on siapa objek yang sedang kita hadapi.

Dua patah kalimat diatas akan mudah kita aplikasikan dalam hidup kita apabila yang kita hadapi adalah orang-orang yang kita sayangi – dan juga menyayangi kita. Orang tua kita, saudara kandung kita, murabbi kita, teman dekat kita, atau istri kita, tentunya akan mudah bagi kita untuk memaafkan kesalahan-kesalahan mereka, berusaha mengingat-ingat kebaikan mereka, dan seterusnya. Namun, lain halnya apabila yang sedang kita hadapi adalah orang yang memang benar-benar banyak “merugikan” hidup kita. Bagaimana bisa kita mengingat-ingat kebaikan mereka dan melupakan keburukan-keburukan mereka sementara jumlah kebaikan yang telah mereka lakukan jauh lebih sedikit daripada keburukan yang telah mereka lakukan terhadap kita?

Dalam sebuah hadits diriwayatkan, Rasulullah SAWW suatu hari pernah menyebut-nyebut salah seorang sahabat beliau sebagai penghuni surga. Abdullah bin Amr bin Ash yang saat itu sedang bersama Rasulullah SAWW diliputi perasaan penasaran, bagaimana sang sahabat tersebut bisa disebut oleh Rasulullah SAWW sebagai penghuni surga. Ia pun akhirnya meminta izin kepada sahabat tersebut untuk ikut menginap di rumahnya agar ia bisa mengetahui amal shaleh apa yang menyebabkan sahabat tersebut disebut-sebut oleh Rasulullah SAWW sebagai penghuni surga. Kemudian sang sahabat pun mengizinkan.

Tiga malam telah dilalui, ternyata Ibnu Umar tidak melihat suatu yang istimewa dari sahabat tersebut dalam ibadahnya. Akhirnya, ia pun berterusterang kepada sang sahabat perihal keingintahuannya mengenai ibadah istimewa yang telah dilakukan sang sahabat yang membuatnya disebut penghuni surga oleh Rasulullah SAWW. Sang sahabat kemudian menjawab bahwa apa yang ia amalkan setiap hari tidak lebih dari apa yang Ibnu Umar saksikan. Hanya saja, ia kerap melakukan evaluasi diri
menjelang tidurnya setiap malam, lalu ia hapus semua rasa gundahnya pada sesama Muslim. Dengan itulah sang sahabat tersebut menjadi penghuni surga, bahkan ketika ia masih di dunia..

See? Tidak sulit menggapai kunci untuk menjadi penghuni surga. Namun juga tidak mudah. Maafkanlah kesalahan, lupakan, dan sebarkanlah kebaikan.

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan
(hartanya di jalan Allah), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya
dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal. (QS. Ali Imran 133-136)

(terinspirasi dari sebuah pengalaman pribadi: ada orang yang dirasa terusss merugikan hingga suatu saat orang tersebut melakukan sebuah kebaikan, yang dengannya Allah SWT menggetarkan hati ini, kemudian menggerakan tangan ini untuk menulis sesuatu. Alhamdulillah ‘alaa kulli haal)