Orientasi Ilmu Kita (Taujih Untuk Para Pencari Ilmu bag.2)

9 12 2008

Ada sebuah pertanyaan besar yang mengganjal di kepala banyak orang sekarang ini, mengapa dahulu umat Muslim bisa begitu maju dan jauh mengungguli bangsa lain dalam hal ilmu pengetahuan? Mengapa sekarang keadaannya menjadi terbalik? Adakah sesuatu yang salah? Apakah Islam harus disesuaikan dengan perkembangan zaman agar bisa kembali kepada kejayaannya? Atau justru orang-orang Islamnya sendiri yang semakin menjauh dari Islam yang sebenarnya yang juga membuat mereka semakin menjauh dari sejarah kejayaan mereka?

Banyak kalangan yang beranggapan bahwa kemajuan Barat dalam dunia sains saat ini adalah berkat menyebarnya paham sekulerisasi dan pemberontakan mereka terhadap dogma-dogma yang diajarkan oleh agama mereka. Anggapan ini ada benarnya juga, mengingat banyaknya kalangan-kalangan ilmuwan mereka di masa lalu yang memegang erat kebenaran atas sebuah fenomena alam, kemudian harus dijatuhi hukuman hanya karena kebenaran yang mereka kemukakan tidak sesuai dengan doktrin agama yang mereka anut. Sebagai contoh, sebut saja Galileo Galilei.

Bahayanya, tidak sedikit juga kalangan yang berasumsi bahwa ketertinggalan ummat Islam di dunia sains saat ini harus juga diatasi dengan cara mengikuti paham sekuler sepertihalnya penganut agama-agama lain. Karenanya, timbullah gerakan-gerakan Islam berhaluan sekuler, pluralis, liberalis dan lain sejenisnya. Mereka mengira dengan begitu mereka dapat menyaingi kaum Barat. Namun, mereka tidak menyadari bahwa kegemilangan ummat Islam masa lalu di dalam dunia sains telah terjadi selama berabad-abad dengan tanpa menganut paham-paham tersebut. Justru sekarang ini dimana paham sekuler tengah banyak menjangkiti pemikiran ummat Muslim, ummat Muslim malah berada di posisi terendah dalam dunia sains.

Jika diteliti, terdapat beberapa faktor yang telah memungkinkan dan mendorong kemajuan ummat Islam dalam sains pada masa itu. Salah satu yang terpenting adalah motivasi agama. Dalam Al-Quran terdapat banyak sekali anjuran untuk menuntut ilmu, perintah agar kita membaca (‘iqra), berobservasi (a falaa yarauna), explorasi (a falaa yanzhuruuna), dan ekspedisi (siiruu fil ardhi). Sangat banyak pula ayat-ayat Al-Quran yang menyatakan keutamaan orang yang berilmu, contoh yang paling terkenal adalah QS. Al Mujaadilah 11:

…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Begitu gencarnya ayat-ayat tentang orang berilmu didengungkan, sehingga belajar dan mencari ilmu pengetahuan diyakini sebagai kewajiban bagi setiap individu Muslim, dengan implikasi berdosalah mereka yang tidak melakukannya. Menuntut ilmu menjadi sebuah ibadah fardhu ‘ain bagi seorang Muslim. Ia mendorong terciptanya masyarakat sains yang merupakan pondasi dari lahirnya peradaban Islam.

Perlu ditegaskan lagi, dalam hal ini taklif yang diberikan kepada seorang Muslim terhadap ilmu tidak berorientasi hanya pada materi, tapi berorientasi untuk kehidupan saat ini dan untuk kehidupan setelahnya. Hal ini sangat berbeda dengan kondisi saat ini dimana dunia Barat menuntut ilmu pengetahuan hanya bertujuan untuk materi. Parahnya lagi, hal ini juga banyak diikuti sebagian besar ummat Islam, sadar maupun tidak sadar. Sudah tidak asing lagi di telinga kita apabila saat ini ada orang tua atau guru yang berkata kepada anaknya:

Nak, belajar yang rajin ya. . . Kalo rajin dan pintar, nanti kalo udah lulus sekolah bisa kerja di perusahaan besar dengan gaji yang gede“.

Si anak yang tidak tahu apa-apa hanya mengiyakan saja dan menjadikan kata-kata orang tuanya tersebut menjadi “aqidah“nya hingga ia besar. Memprihatinkan memang. Islam tidak menafikan kebutuhan manusia terhadap harta. Harta, kesehatan dan kekuasaan dalam Islam “diarahkan” dalam rangka peribadatan kepada Allah SWT. Itulah satu-satunya jalan yang diridhai Allah.

Peradaban Barat sudah terlalu jauh meninggalkan ummat Islam dalam hal ilmu pengetahuan. Sangat sulit bagi ummat Islam untuk bangkit mengejar ketertinggalan ini, apalagi ditambah dengan kebiasaan-kebiasaan buruk yang menjamur di tubuh ummat Islam saat ini (malas, indisipliner, jumud, dan sifat-sifat buruk lainnya). Adalah sebuah harapan yang sangat jauh dari kenyataan apabila kebangkitan ummat Islam di bidang ilmu pengetahuan dikehendaki tanpa dilakukannya reorientasi tujuan dari para penuntut ilmunya.

Bukan materi tujuannya, tapi keridhaan Yang Maha Pemberi keinginannya. Bukan dunia cita-citanya, tapi keabadian lah orientasinya. Orientasi pada keabadian itulah yang akan menjadi sumber kekuatan dan semangat yang tak terbatas bagi ummat Islam untuk kembali bangkit dan berjaya. Insya Allah.

Wallahu ‘alam bishshawab.

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: