Mencari Sekeping Hikmah dari Perjalanan Sumedang-Semarang-Jogja-Bandung

5 01 2009

Sabtu kemarin ini, 27 Desember 2008, saya dan keluarga pergi ke daerah Jawa Tengah. Kita berangkat dari The Grand Tofu City (sebutan kerennya buat Kota Tahu :p ) pukul 03.30 dini hari, dan sampai di Kota Semarang pukul 12.00 tengah hari. Perjalanan delapan jam lebih memang cukup lama, tapi Alhamdulillah tubuh ini masih fit untuk digunakan for next activities (soalnya sepanjang perjalanan tidur terus, hehehe).

Di Semarang ini, saya memenuhi undangan dari salah satu sanak saudara (saudara sepupunya ibu saya) yang kini sedang mengadakan acara “terban“-an. Acara terbanan itu mirip dengan acara “unduh mantu”nya orang Jawa, tapi yang ini berasal dari budaya Arab (tapi ya nggak tau juga ya, ini juga masih sok tau ^^). Yaa pokoknya acaranya cukup meriah: ada nyanyi-nyanyi pake Bahasa Arab, musik Arab, hidangannya pake daging kambing, serasa ada di tengah gurun pasir euy! Tinggal ditambahin onta aja, hehehe. Oh ya, selama acara berlangsung, di Masjid dekat rumah juga sedang ada pengajian dari Ust. Abu Bakar Ba’asyir. Wuihh… pengamanannya dari Polri ketat banget, kerennn!!! Saya nyempetin datang ke acara beliau, mastiin kalau yang di tipi itu bener-bener sama dengan aslinya. Ternyata bener.

Sabtu malam, pukul 22.30, acaranya selesai. Sehabis itu ada diskusi sebentar mengenai “future sakinah family“. Kemudian pukul 24.00 saya pergi meninggalkan Semarang menuju hometown kedua orangtuaku, Kota Budeg, eh Gudeg: Jogjakarta.

Saya sampai di Jogja Minggu dini hari, pukul 02.30. Sehabis itu acaranya langsung tidur.

Di Jogja ini, misi utama saya adalah menjenguk bibi saya (adiknya bapak) yang sedang terbaring sakit di RS Sardjito. Beliau ini sedang dicoba oleh Allah SWT dengan penyakit kanker pada langit-langit mulut. Lama saya tak bersua dengan beliau, dan sangat kaget, prihatin sekaligus sedih hati saya ketika kemarin bertemu dengan beliau. Beliau begitu berubah.

Rambut beliau yang dahulu tebal kini habis dipotong karena harus mengikuti kemoterapi. Tubuh beliau yang dahulu sehat dan segar, kini berubah menjadi rapuh dan sangat kurus. Dan yang paling memperihatinkan, dari rongga mulut beliau terlihat seonggok daging kanker berwarna hitam yang membuat beliau tidak dapat menutup mulutnya, dan membuatnya terus merasa kesakitan (Yaa Allah…). Kankernya kini sudah menyebar ke bagian hidung dan menyebabkan lubang hidung beliau mampet sebelah. Oleh karenanya, beliau menolak menggunakat NGT (alat bantu penceranaan berupa selang yang dimasukan ke dalam rongga hidung untuk memasukan makanan kedalam rongga perut) karena apabila lubang hidung beliau yang tersisa itu dipasangi NGT, beliau akan kesulitan bernafas. Terpaksalah beliau harus bersusah payah memasukan makanan (susu) lewat mulut apabila beliau lapar, walaupun dengan diiringi oleh terjadinya pendarahan berulangkali setiap beliau makan…T_T

Tak ada kesan yang tersisa dari kunjungan saya ke RS. Sardjito kemarin kecuali rasa prihatin kepada para pasien disana, dan rasa syukur atas nikmat kesehatan yang Allah SWT masih berikan kepada saya (semoga tetap sehat selalu, amin).

Minggu malam, pukul 21.00, saya berangkat pulang menuju Kota Schumedanche (nama keren yang lain lagi untuk Kota Sumedang :p). Perjalanan kali ini cukup lama, karena kakakku tersayang sebagai pak supir sudah banyak terkuras tenaganya dan harus sering beristirahat di tengah perjalanan. Bukannya saya tidak mau menggantikan beliau menyetir, tapi apa daya memang saya tidak dapat menyetir mobil dengan baik. Sampai di Sumedang pukul 09.00 pagi.

Siangnya, sebuah kepentingan yang sangat penting mengharuskan saya pergi ke Kota Bandung karena ini menyangkut hajat yang mungkin terbesar dalam hidup saya (huaduh J). Berangkat dari Sumedang pukul 11.30, sampai di Bandung sekitar pukul 13.40. Kemudian saya membeli es shanghai di daerah Simpang Dago untuk mengobati rindu saya di masa kuliah dulu dan untuk menjaga agar asupan gizi dalam tubuh ini tetap baik. Pukul 14.15 setelah urusan saya di Bandung selesai, dan saya langsung pulang ke Grand Tofu City. Kalau dihitung-hitung, saya di Bandung Cuma setengah jam-an.. buusyeet… mungkin ini waktu tercepat saya selama ini untuk kunjungan ke Bandung.

Sampai kembali di Schumedanche pukul 16.30, ternyata badan sudah tidak kuat lagi menahan letih. Tergeletak lemas lah tubuh tersayang ini di ranjang. Memang, tubuh pun mempunyai hak atas kita, dan kali ini mungkin adalah saat si tubuh menuntut lebih atas haknya yang telah kita tunda-tunda : istirahat. Kalo diinget-inget, ternyata cukup lama juga badan ini dibawa perjalanan kesana kemari: sekitar 27 jam. Kalau sudah seperti ini, apa-apa menjadi tidak enak: shalat ga kerasa “feel”nya, tilawah ga kuat suaranya, baca buku ga bisa fokus, huaduh… mungkin satu hal yang masih bisa tetep enjoy untuk dilakukan di saat-saat seperti ini: nulis blog ini sambil tiduran di kasur, :D.

Allah SWT telah memberi suatu pelajaran dan peringatan yang sangat berharga bagi saya dari perjalanan selama tiga hari ini, dan itu adalah mengenai rasa syukur atas kesehatan yang Allah SWT berikan. Kenikmatan terbesar kedua setelah kenikmatan iman adalah kesehatan. Udah deh, pokonya yang namanya sehat itu berharga banget, salah satu modal utama kita hidup! Makannya aneh apabila ada orang-orang yang diberi nikmat sehat tapi masih merasa serba kekurangan. Mereka terlalu sibuk dengan kekurangan dan keterbatasan yang ada pada diri mereka, padahal mereka mengabaikan limpahan kelebihan dan keleluasaan yang Allah anugerahkan kepada mereka.

Sebagai tambahannya, manifestasi dari rasa syukur itu juga bisa diwujudkan berupa kasih sayang kita terhadap saudara-saudara kita yang sedang ditimpa cobaan berupa kurangnya kesehatan. Namanya orang yang lagi ditimpa cobaan sakit itu kerasa banget loh kalo ada orang yang ngasih bantuan kepadanya, walaupun bantuannya cuma sedikit. Manifestasi rasa syukur lainnya adalah menjaga agar tubuh kita tetap sehat dengan cara menunaikan apa-apa yang menjadi hak tubuh kita atas diri kita (memilihkan makanan yang sehat, olahraga dan istirahat yang teratur, dan lainnya).  Dengan begitu, nikmat sehat insya Allah akan tetap Allah SWT limpahkan kepada kita. Semoga kita bisa mensyukuri nikmat sehat yang Allah SWT berikan ini, dan Allah SWT melanggengkan nikmat sehat-Nya atas diri kita semua, amin.

abuu u laka bini’matika ‘alayya, Yaa Rabbi…

Alhamdulillah…

Advertisements