Kematian Hati

12 12 2008

Banyak orang cepat datang ke shaf shalat layaknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi.

Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya. Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri.

Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.

Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.

Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.

Asshiddiq Abu Bakar Ra. selalu gemetar saat dipuji orang. “Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka”, ucapnya lirih.

Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana, lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan kata.
Dimana kau letakkan dirimu?
Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut.

Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.
Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma’siat menggodamu dan engkau meni’matinya?

Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia ?

Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini potret negerimu : 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan. Mungkin engkau mulai berfikir “Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh” Betapa jamaknya ‘dosa kecil’ itu dalam hatimu.

Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat “TV Thaghut” menyiarkan segala “kesombongan jahiliyah dan maksiat”?

Saat engkau muntah melihat laki-laki (banci) berpakaian perempuan, karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan ” Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat ?”

mati

Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang “Ini tidak islami” berarti ia paling islami, sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana?
Sekarang kau telah jadi kader hebat.
Tidak lagi malu-malu tampil.

Justeru engkau akan dihadang tantangan: sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa.

Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki. Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi ? Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu.

Siapa yang mau menghormati ummat yang “kiayi”nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang, lalu dengan enteng mengatakan “Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku” dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah?

Siapa yang akan memandang ummat yang da’inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan “Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua” Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai ‘alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?

Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da’wahnya? Akankah kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir ? Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini? Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka.

Tengoklah langkah mereka di mal. Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa “westernnya” . Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan “lihatlah, betapa Amerikanya aku”.
Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri.

Mahatma Ghandi memimpin perjuangan dengan memakai tenunan bangsa sendiri atau terompah lokal yang tak bermerk. Namun setiap ia menoleh ke kanan, maka 300 juta rakyat India menoleh ke kanan. Bila ia tidur di rel kereta api, maka 300 juta rakyat India akan ikut tidur disana.

Kini datang “pemimpin” ummat, ingin mengatrol harga diri dan gengsi ummat dengan pameran mobil, rumah mewah, “toko emas berjalan” dan segudang asesori. Saat fatwa digenderangkan, telinga ummat telah tuli oleh dentam berita tentang hiruk pikuk pesta dunia yang engkau ikut mabuk disana. “Engkau adalah penyanyi bayaranku dengan uang yang kukumpulkan susah payah. Bila aku bosan aku bisa panggil penyanyi lain yang kicaunya lebih memenuhi seleraku”

(Taujih dari Alm. KH. Ust. Rahmat Abdullah (2) )

Advertisements




Orientasi Ilmu Kita (Taujih Untuk Para Pencari Ilmu bag.2)

9 12 2008

Ada sebuah pertanyaan besar yang mengganjal di kepala banyak orang sekarang ini, mengapa dahulu umat Muslim bisa begitu maju dan jauh mengungguli bangsa lain dalam hal ilmu pengetahuan? Mengapa sekarang keadaannya menjadi terbalik? Adakah sesuatu yang salah? Apakah Islam harus disesuaikan dengan perkembangan zaman agar bisa kembali kepada kejayaannya? Atau justru orang-orang Islamnya sendiri yang semakin menjauh dari Islam yang sebenarnya yang juga membuat mereka semakin menjauh dari sejarah kejayaan mereka?

Banyak kalangan yang beranggapan bahwa kemajuan Barat dalam dunia sains saat ini adalah berkat menyebarnya paham sekulerisasi dan pemberontakan mereka terhadap dogma-dogma yang diajarkan oleh agama mereka. Anggapan ini ada benarnya juga, mengingat banyaknya kalangan-kalangan ilmuwan mereka di masa lalu yang memegang erat kebenaran atas sebuah fenomena alam, kemudian harus dijatuhi hukuman hanya karena kebenaran yang mereka kemukakan tidak sesuai dengan doktrin agama yang mereka anut. Sebagai contoh, sebut saja Galileo Galilei.

Bahayanya, tidak sedikit juga kalangan yang berasumsi bahwa ketertinggalan ummat Islam di dunia sains saat ini harus juga diatasi dengan cara mengikuti paham sekuler sepertihalnya penganut agama-agama lain. Karenanya, timbullah gerakan-gerakan Islam berhaluan sekuler, pluralis, liberalis dan lain sejenisnya. Mereka mengira dengan begitu mereka dapat menyaingi kaum Barat. Namun, mereka tidak menyadari bahwa kegemilangan ummat Islam masa lalu di dalam dunia sains telah terjadi selama berabad-abad dengan tanpa menganut paham-paham tersebut. Justru sekarang ini dimana paham sekuler tengah banyak menjangkiti pemikiran ummat Muslim, ummat Muslim malah berada di posisi terendah dalam dunia sains.

Jika diteliti, terdapat beberapa faktor yang telah memungkinkan dan mendorong kemajuan ummat Islam dalam sains pada masa itu. Salah satu yang terpenting adalah motivasi agama. Dalam Al-Quran terdapat banyak sekali anjuran untuk menuntut ilmu, perintah agar kita membaca (‘iqra), berobservasi (a falaa yarauna), explorasi (a falaa yanzhuruuna), dan ekspedisi (siiruu fil ardhi). Sangat banyak pula ayat-ayat Al-Quran yang menyatakan keutamaan orang yang berilmu, contoh yang paling terkenal adalah QS. Al Mujaadilah 11:

…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Begitu gencarnya ayat-ayat tentang orang berilmu didengungkan, sehingga belajar dan mencari ilmu pengetahuan diyakini sebagai kewajiban bagi setiap individu Muslim, dengan implikasi berdosalah mereka yang tidak melakukannya. Menuntut ilmu menjadi sebuah ibadah fardhu ‘ain bagi seorang Muslim. Ia mendorong terciptanya masyarakat sains yang merupakan pondasi dari lahirnya peradaban Islam.

Perlu ditegaskan lagi, dalam hal ini taklif yang diberikan kepada seorang Muslim terhadap ilmu tidak berorientasi hanya pada materi, tapi berorientasi untuk kehidupan saat ini dan untuk kehidupan setelahnya. Hal ini sangat berbeda dengan kondisi saat ini dimana dunia Barat menuntut ilmu pengetahuan hanya bertujuan untuk materi. Parahnya lagi, hal ini juga banyak diikuti sebagian besar ummat Islam, sadar maupun tidak sadar. Sudah tidak asing lagi di telinga kita apabila saat ini ada orang tua atau guru yang berkata kepada anaknya:

Nak, belajar yang rajin ya. . . Kalo rajin dan pintar, nanti kalo udah lulus sekolah bisa kerja di perusahaan besar dengan gaji yang gede“.

Si anak yang tidak tahu apa-apa hanya mengiyakan saja dan menjadikan kata-kata orang tuanya tersebut menjadi “aqidah“nya hingga ia besar. Memprihatinkan memang. Islam tidak menafikan kebutuhan manusia terhadap harta. Harta, kesehatan dan kekuasaan dalam Islam “diarahkan” dalam rangka peribadatan kepada Allah SWT. Itulah satu-satunya jalan yang diridhai Allah.

Peradaban Barat sudah terlalu jauh meninggalkan ummat Islam dalam hal ilmu pengetahuan. Sangat sulit bagi ummat Islam untuk bangkit mengejar ketertinggalan ini, apalagi ditambah dengan kebiasaan-kebiasaan buruk yang menjamur di tubuh ummat Islam saat ini (malas, indisipliner, jumud, dan sifat-sifat buruk lainnya). Adalah sebuah harapan yang sangat jauh dari kenyataan apabila kebangkitan ummat Islam di bidang ilmu pengetahuan dikehendaki tanpa dilakukannya reorientasi tujuan dari para penuntut ilmunya.

Bukan materi tujuannya, tapi keridhaan Yang Maha Pemberi keinginannya. Bukan dunia cita-citanya, tapi keabadian lah orientasinya. Orientasi pada keabadian itulah yang akan menjadi sumber kekuatan dan semangat yang tak terbatas bagi ummat Islam untuk kembali bangkit dan berjaya. Insya Allah.

Wallahu ‘alam bishshawab.





TOGA (Taujih Untuk Para Pencari Ilmu bag.1)

25 11 2008

Toga, pakaian yang kita pakai sewaktu kita diwisuda dari sebuah institusi akademik. Betapa bangganya orang tua kita ketika melihat kita mengenakan pakaian “kebesaran” itu. Sampai sekarang, foto saya yang sedang mengenakan toga masih tetap dipajang di ruang tengah rumah orang tua saya :D.

Kebanyakan orang menyangka bahwa toga merupakan sebuah produk budaya dari peradaban Barat. Padahal, tahukah antum, toga merupakan warisan dari peradaban Islam yang agung di masa lalu. Toga merupakan pakaian yang diberikan oleh universitas-universitas Islam Andalusia bagi para penuntut ilmu di dalamnya yang telah dinyatakan berhasil lulus dari tempat tersebut. Ketika itu, para penuntut ilmu di universitas Islam Andalusia tidak hanya berasal dari kalangan Muslim. Banyak orang-orang non-Muslim Eropa yang juga menuntut ilmu di situ. Mereka adalah orang-orang pengagum peradaban Islam dan mencoba menggali ilmu di sana agar bisa dimanfaatkan di negerinya masing-masing. Ketika mereka telah lulus dari unversitas-universitas Islam tersebut, mereka kembali ke negeri mereka dengan sambil mengenakan pakaian toga. Mereka adalah orang-orang yang dibanggakan oleh bangsanya karena telah berhasil menuntut ilmu di unviersitas Islam. Dan toga, merupakan salah satu tanda bahwa mereka telah berhasil lulus dari universitas terbaik di masa itu.

Subhanallah…

Walaupun toga yang kita kenakan sewaktu di wisuda saat ini tidak langsung berasal dari universitas-universitas Islam di Andalusia, kita masih bisa tetap bangga terhadap produk kebudayaan Islam kita ini. Sebuah peninggalan dari sebuah peradaban agung yang berhasil memimpin dunia dalam waktu berabad-abad lamanya. . . yang kini sedang tidur dan menunggu untuk dibangunkan kembali oleh ummatnya. Tidak mudah untuk mengembalikan kejayaan Islam seperti masa itu lagi. Namun juga bukan berarti tidak mungkin. Yang seperti itu hanya bisa dilakukan oleh Muslimin yang mempunyai kebulatan ‘azzam dan kelurusan akidah, serta kesatuan langkah perjuangan,

Insya Allah.





Khutbah Rasulullah SAWW

4 11 2008

Khutbah Rasulullah SAWW di Jabal Rahmah 14 abad silam:

“Wahai umat manusia! Ketahuilah bahwa setiap nyawa dan harta seorang Muslim adalah suci, sesuci bulan dan tanah. Seorang Muslim tidak boleh mengambil hak milik saudaranya tanpa izin darinya. Kembalikanlah harta yang diamanahkan pada kalian kepada yang berhak. Janganlah kamu menzhalimi siapa pun, agar orang lain tidak menzhalimi kamu pula. Ingatlah bahwa sesungguhnya kamu akan bertemu Allah yang akan memperhitungkan segala perbuatanmu. Allah telah mengharamkan riba. Maka batalkanlah semua urusan yang melibatkan riba.

Berwaspadalah terhadap setan demi keselamatan agamamu. Karena dia telah berputus asa untuk menyesatkanmu dalam perkara-perkara besar, maka berjagalah agar kamu tidak mengikutinya dalam perkara-perkara kecil.

Wahai umat manusia! Sebagaimana kamu mempunyai hak atas istrimu, mereka juta mempunyai hak atas kamu. Jika mereka menunaikan hakmu, maka mereka berhak mendapatkan nafkah dalam suasana kasih sayang. Layanilah mereka dengan baik, dan berkemah-lembut lah terhadap mereka, karena sesungguhnya mereka adalah teman hidup dan penolong setiamu. Adalah hak kamu melarang mereka untuk tidak berselingkuh atau berzina.

Wahai umat manusia! Simaklah baik-baik pesanku ini. Sembahlah Allah, dirikanlah shalat lima kali sehari, berpuasalah di bulan Ramadhan, dan keluarkanlah zakat. Kerjakanlah ibadah haji sekiranya kamu mampu. Ketahuilah bahwa setiap Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain. Kamu adalah sama. Semuanya berasal dari Nabi Adam a.s., dan Adam dari tanah. Tidak ada seorang pun yang lebih mulia daripada yang lain kecuali dengan takwa dan amal shaleh.

Ingatlah, bahwa kamu akan menghadap Allah pada suatu hari untuk mempertanggungjawabkan apa-apa yang telah kamu kerjakan. Agar kamu tidak keluar dari jalan kebenaran sepeninggalku.

Wahai umat manusia! Tidak ada lagi nabi atau rasul sesudahku dan tidak ada pula agama baru. Oleh karena itu camkan dan pahamilah kata-kataku. Sesungguhnya aku tinggalkan bagimu dua pusaka. Sekiranya kamu berpegang pada dan mengikuti keduanya, niscaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Al-Qur’an dan Sunnahku.”

Khutbah Rasulullah SAWW diatas, merupakan rumusan cita-cita agung kemanusiaan
dan aktualisasi Islam sebagai resep hidup individu, sosial ekonomi maupun politik, yaitu Islam Kaffah
yang tidak berhenti pada keshalihan ritual semata, tetapi juga Islam yang mendatangkan keadilan dan kesejahteraan, Islam yang membuahkan harmoni
dan kasih sayang, Islam yang menjanjikan kebahagiaan dunia dan akhirat.





Maafkan, lalu Lupakan…

4 11 2008

Di dalam film yang berjudul Sang Murabbi (2008), KH. Rahmat Abdullah yang diperankan oleh Irwan Renaldi berkata kepada kakaknya (atau adiknya, saya lupa) yang sedang mempunyai masalah dengan dua orang preman teman menyabung ayamnya,

“Ada dua hal yang harus selalu kamu ingat, perbuatan baik orang lain terhadap kamu, dan perbuatan burukmu terhadap orang lain. Dan juga ada dua hal yang harus kamu lupakan, perbuatan buruk orang lain terhadap dirimu, dan perbuatan baikmu terhadap orang lain…”

Dua patah kalimat yang sederhana memang. Tapi itulah sebenarnya yang menjadi keluhuran akhlaq dan kunci komunikasi seorang Mukmin terhadap saudaranya yang lain, mudah memaafkan
dan berempati. Pada implikasinya, ternyata sepasang kalimat di atas tidak semudah mengucapkannya. Perlu kecerdasan emosi
yang tinggi untuk bisa melakukannya ^^. Kecerdasan emosi yang dibutuhkan pun akan berbeda, base on siapa objek yang sedang kita hadapi.

Dua patah kalimat diatas akan mudah kita aplikasikan dalam hidup kita apabila yang kita hadapi adalah orang-orang yang kita sayangi – dan juga menyayangi kita. Orang tua kita, saudara kandung kita, murabbi kita, teman dekat kita, atau istri kita, tentunya akan mudah bagi kita untuk memaafkan kesalahan-kesalahan mereka, berusaha mengingat-ingat kebaikan mereka, dan seterusnya. Namun, lain halnya apabila yang sedang kita hadapi adalah orang yang memang benar-benar banyak “merugikan” hidup kita. Bagaimana bisa kita mengingat-ingat kebaikan mereka dan melupakan keburukan-keburukan mereka sementara jumlah kebaikan yang telah mereka lakukan jauh lebih sedikit daripada keburukan yang telah mereka lakukan terhadap kita?

Dalam sebuah hadits diriwayatkan, Rasulullah SAWW suatu hari pernah menyebut-nyebut salah seorang sahabat beliau sebagai penghuni surga. Abdullah bin Amr bin Ash yang saat itu sedang bersama Rasulullah SAWW diliputi perasaan penasaran, bagaimana sang sahabat tersebut bisa disebut oleh Rasulullah SAWW sebagai penghuni surga. Ia pun akhirnya meminta izin kepada sahabat tersebut untuk ikut menginap di rumahnya agar ia bisa mengetahui amal shaleh apa yang menyebabkan sahabat tersebut disebut-sebut oleh Rasulullah SAWW sebagai penghuni surga. Kemudian sang sahabat pun mengizinkan.

Tiga malam telah dilalui, ternyata Ibnu Umar tidak melihat suatu yang istimewa dari sahabat tersebut dalam ibadahnya. Akhirnya, ia pun berterusterang kepada sang sahabat perihal keingintahuannya mengenai ibadah istimewa yang telah dilakukan sang sahabat yang membuatnya disebut penghuni surga oleh Rasulullah SAWW. Sang sahabat kemudian menjawab bahwa apa yang ia amalkan setiap hari tidak lebih dari apa yang Ibnu Umar saksikan. Hanya saja, ia kerap melakukan evaluasi diri
menjelang tidurnya setiap malam, lalu ia hapus semua rasa gundahnya pada sesama Muslim. Dengan itulah sang sahabat tersebut menjadi penghuni surga, bahkan ketika ia masih di dunia..

See? Tidak sulit menggapai kunci untuk menjadi penghuni surga. Namun juga tidak mudah. Maafkanlah kesalahan, lupakan, dan sebarkanlah kebaikan.

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan
(hartanya di jalan Allah), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya
dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal. (QS. Ali Imran 133-136)

(terinspirasi dari sebuah pengalaman pribadi: ada orang yang dirasa terusss merugikan hingga suatu saat orang tersebut melakukan sebuah kebaikan, yang dengannya Allah SWT menggetarkan hati ini, kemudian menggerakan tangan ini untuk menulis sesuatu. Alhamdulillah ‘alaa kulli haal)





Membangun dan Membina Militansi Kita

16 10 2008

Ba’da tahmid wa shalawat

Ikhwah rahimakumullah, Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an Surat 19 Ayat 12 : …..
Ya Yahya hudzil kitaaba bi quwwah …” (QS. Maryam (19):12)

Tatkala Allah SWT memberikan perintah kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas, Ia tak hanya menyuruh mereka untuk taat melaksanakannya melainkan juga harus mengambilnya dengan quwwah yang bermakna jiddiyah, kesungguhan-sungguhan.

Sejarah telah diwarnai, dipenuhi dan diperkaya oleh orang-orang yang sungguh-sungguh. Bukan oleh orang-orang yang santai, berleha-leha dan berangan-angan. Dunia diisi dan dimenangkan oleh orang-orang yang merealisir cita-cita, harapan dan angan-angan mereka dengan jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dan kekuatan tekad.

Namun kebatilan pun dibela dengan sungguh-sungguh oleh para pendukungnya, oleh karena itulah Ali bin Abi Thalib ra menyatakan: “Al-haq yang tidak ditata dengan baik akan dikalahkan oleh Al-bathil yang tertata dengan baik”.

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah,
Allah memberikan ganjaran yang sebesar-besarnya dan derajat yang setinggi-tingginya bagi mereka yang sabar dan lulus dalam ujian kehidupan di jalan dakwah. Jika ujian, cobaan yang diberikan Allah hanya yang mudah-mudah saja tentu mereka tidak akan memperoleh ganjaran yang hebat. Di situlah letak hikmahnya yakni bahwa seorang da’i harus sungguh-sungguh dan sabar dalam meniti jalan dakwah ini. Perjuangan ini tidak bisa dijalani dengan ketidaksungguhan, azam yang lemah dan pengorbanan yang sedikit.

Ali sempat mengeluh ketika melihat semangat juang pasukannya mulai melemah, sementara para pemberontak sudah demikian destruktif, berbuat dan berlaku seenak-enaknya. Para pengikut Ali saat itu malah menjadi ragu-ragu dan gamang, sehingga Ali perlu mengingatkan mereka dengan kalimatnya yang terkenal tersebut.

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah,
Ketika Allah menyuruh Nabi Musa as mengikuti petunjuk-Nya, tersirat di dalamnya sebuah pesan abadi, pelajaran yang mahal dan kesan yang mendalam:

“Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): “Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang teguh kepada perintah-perintahnya dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasiq”.(QS. Al-A’raaf (7):145)

Demikian juga perintah-Nya terhadap Yahya, dalam surat Maryam ayat 12 :

“Hudzil kitaab bi quwwah” (Ambil kitab ini dengan quwwah). Yahya juga diperintahkan oleh Allah untuk mengemban amanah-Nya dengan jiddiyah (kesungguh-sungguhan). Jiddiyah ini juga nampak pada diri Ulul Azmi (lima orang Nabi yakni Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad yang dianggap memiliki azam terkuat).

Dakwah berkembang di tangan orang-orang yang memiliki militansi, semangat juang yang tak pernah pudar. Ajaran yang mereka bawa bertahan melebihi usia mereka. Boleh jadi usia para mujahid pembawa misi dakwah tersebut tidak panjang, tetapi cita-cita, semangat dan ajaran yang mereka bawa tetap hidup sepeninggal mereka.

Apa artinya usia panjang namun tanpa isi, sehingga boleh jadi biografi kita kelak hanya berupa 3 baris kata yang dipahatkan di nisan kita: “Si Fulan lahir tanggal sekian-sekian, wafat tanggal sekian-sekian”.

Hendaknya kita melihat bagaimana kisah kehidupan Rasulullah saw dan para sahabatnya. Usia mereka hanya sekitar 60-an tahun. Satu rentang usia yang tidak terlalu panjang, namun sejarah mereka seakan tidak pernah habis-habisnya dikaji dari berbagai segi dan sudut pandang. Misalnya dari segi strategi militernya, dari visi kenegarawanannya, dari segi sosok kebapakannya dan lain sebagainya.

Seharusnyalah kisah-kisah tersebut menjadi ibrah bagi kita dan semakin meneguhkan hati kita. Seperti digambarkan dalam QS. 11:120, orang-orang yang beristiqomah di jalan Allah akan mendapatkan buah yang pasti berupa keteguhan hati. Bila kita tidak kunjung dapat menarik ibrah dan tidak semakin bertambah teguh, besar kemungkinannya ada yang salah dalam diri kita. Seringkali kurangnya jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dalam diri kita membuat kita mudah berkata hal-hal yang membatalkan keteladanan mereka atas diri kita. Misalnya: “Ah itu kan Nabi, kita bukan Nabi. Ah itu kan istri Nabi, kita kan bukan istri Nabi”. Padahal memang tanpa jiddiyah sulit bagi kita untuk menarik ibrah dari keteladanan para Nabi, Rasul dan pengikut-pengikutnya.

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah,
Di antara sekian jenis kemiskinan, yang paling memprihatinkan adalah kemiskinan azam, tekad dan bukannya kemiskinan harta.

Misalnya anak yang mendapatkan warisan berlimpah dari orangtuanya dan kemudian dihabiskannya untuk berfoya-foya karena merasa semua itu didapatkannya dengan mudah, bukan dari tetes keringatnya sendiri. Boleh jadi dengan kemiskinan azam yang ada padanya akan membawanya pula pada kebangkrutan dari segi harta. Sebaliknya anak yang lahir di keluarga sederhana, namun memiliki azam dan kemauan yang kuat kelak akan menjadi orang yang berilmu, kaya dan seterusnya.

Demikian pula dalam kaitannya dengan masalah ukhrawi berupa ketinggian derajat di sisi Allah. Tidak mungkin seseorang bisa keluar dari kejahiliyahan dan memperoleh derajat tinggi di sisi Allah tanpa tekad, kemauan dan kerja keras.

Kita dapat melihatnya dalam kisah Nabi Musa as. Kita melihat bagaimana kesabaran, keuletan, ketangguhan dan kedekatan hubungannya dengan Allah membuat Nabi Musa as berhasil membawa umatnya terbebas dari belenggu tirani dan kejahatan Fir’aun.

Berkat do’a Nabi Musa as dan pertolongan Allah melalui cara penyelamatan yang spektakuler, selamatlah Nabi Musa dan para pengikutnya menyeberangi Laut Merah yang dengan izin Allah terbelah menyerupai jalan dan tenggelamlah Fir’aun beserta bala tentaranya.

Namun apa yang terjadi? Sesampainya di seberang dan melihat suatu kaum yang tengah menyembah berhala, mereka malah meminta dibuatkan berhala yang serupa untuk disembah. Padahal sewajarnya mereka yang telah lama menderita di bawah kezaliman Fir’aun dan kemudian diselamatkan Allah, tentunya merasa sangat bersyukur kepada Allah dan berusaha mengabdi kepada-Nya dengan sebaik-baiknya. Kurangnya iman, pemahaman dan kesungguh-sungguhan membuat mereka terjerumus kepada kejahiliyahan.

Sekali lagi marilah kita menengok kekayaan sejarah dan mencoba bercermin pada sejarah. Kembali kita akan menarik ibrah dari kisah Nabi Musa as dan kaumnya.

Dalam QS. Al-Maidah (5) ayat 20-26 : “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu, ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yang lain”.

“Hai, kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi”.

“Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar dari negri itu. Jika mereka keluar dari negri itu, pasti kami akan memasukinya”.

“Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.

“Mereka berkata: “Hai Musa kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja”.

“Berkata Musa: “Ya Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasiq itu”.

“Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasiq itu”.
Rangkaian ayat-ayat tersebut memberikan pelajaran yang mahal dan sangat berharga bagi kita, yakni bahwa manusia adalah anak lingkungannya. Ia juga makhluk kebiasaan yang sangat terpengaruh oleh lingkungannya dan perubahan besar baru akan terjadi jika mereka mau berusaha seperti tertera dalam QS. Ar-Ra’du (13):11, “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sampai mereka berusaha merubahnya sendiri”.

Nabi Musa as adalah pemimpin yang dipilihkan Allah untuk mereka, seharusnyalah mereka tsiqqah pada Nabi Musa. Apalagi telah terbukti ketika mereka berputus asa dari pengejaran dan pengepungan Fir’aun beserta bala tentaranya yang terkenal ganas, Allah SWT berkenan mengijabahi do’a dan keyakinan Nabi Musa as sehingga menjawab segala kecemasan, keraguan dan kegalauan mereka seperti tercantum dalam QS. Asy-Syu’ara (26):61-62, “Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”. Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Rabbku bersamaku, kelak Dia pasti akan memberi petunjuk kepadaku”.

Semestinya kaum Nabi Musa melihat dan mau menarik ibrah (pelajaran) bahwa apa-apa yang diridhai Allah pasti akan dimudahkan oleh Allah dan mendapatkan keberhasilan karena jaminan kesuksesan yang diberikan Allah pada orang-orang beriman. Allah pasti akan bersama al-haq dan para pendukung kebenaran. Namun kaum Nabi Musa hanya melihat laut, musuh dan kesulitan-kesulitan tanpa adanya tekad untuk mengatasi semua itu sambil di sisi lain bermimpi tentang kesuksesan. Hal itu sungguh merupakan opium, candu yang berbahaya. Mereka menginginkan hasil tanpa kerja keras dan kesungguh-sungguhan. Mereka adalah “qaumun jabbarun” yang rendah, santai dan materialistik. Seharusnya mereka melihat bagaimana kesudahan nasib Fir’aun yang dikaramkan Allah di laut Merah.

Seandainya mereka yakin akan pertolongan Allah dan yakin akan dimenangkan Allah, mereka tentu tsiqqah pada kepemimpinan Nabi Musa dan yakin pula bahwa mereka dijamin Allah akan memasuki Palestina dengan selamat.

Bukankah Allah SWT telah berfirman dalam QS. 47:7, “In tanshurullah yanshurkum wayutsabbit  bihil aqdaam” (Jika engkau menolong Allah, Allah akan menolongmu dan meneguhkan pendirianmu).
Hendaknya jangan sampai kita seperti Bani Israil yang bukannya tsiqqah dan taat kepada Nabi-Nya, mereka dengan segala kedegilannya malah menyuruh Nabi Musa as untuk berjuang sendiri. “Pergilah engkau dengan Tuhanmu”. Hal itu sungguh merupakan kerendahan akhlak dan militansi, sehingga Allah mengharamkan bagi mereka untuk memasuki negri itu. Maka selama 40 tahun mereka berputar-putar tanpa pernah bisa memasuki negri itu.

Namun demikian, Allah yang Rahman dan Rahim tetap memberi mereka rizqi berupa ghomama, manna dan salwa, padahal mereka dalam kondisi sedang dihukum.

Tetapi tetap saja kedegilan mereka tampak dengan nyata ketika dengan tidak tahu dirinya mereka mengatakan kepada Nabi Musa tidak tahan bila hanya mendapat satu jenis makanan.

Orientasi keduniawian yang begitu dominan pada diri mereka membuat mereka begitu kurang ajar dan tidak beradab dalam bersikap terhadap pemimpin. Mereka berkata: “Ud’uulanaa robbaka” (Mintakan bagi kami pada Tuhanmu). Seyogyanya mereka berkata: “Pimpinlah kami untuk berdo’a pada Tuhan kita”.

Kebodohan seperti itu pun kini sudah mentradisi di masyarakat. Banyak keluarga yang berstatus Muslim, tidak pernah ke masjid tapi mampu membayar sehingga banyak orang di masjid yang menyalatkan jenazah salah seorang keluarga mereka, sementara mereka duduk-duduk atau berdiri menonton saja.

Rasulullah saw memang telah memberikan nubuwat atau prediksi beliau: “Kelak kalian pasti akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian selangkah demi selangkah, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta dan sedepa demi sedepa”. Sahabat bertanya: “Yahudi dan Nasrani ya Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Siapa lagi?”.

Kebodohan dalam meneladani Rasulullah juga bisa terjadi di kalangan para pemikul dakwah sebagai warasatul anbiya (pewaris nabi). Mereka mengambil keteladanan dari beliau secara tidak tepat. Banyak ulama atau kiai yang suka disambut, dielu-elukan dan dilayani padahal Rasulullah tidak suka dilayani, dielu-elukan apalagi didewakan. Sebaliknya mereka enggan untuk mewarisi kepahitan, pengorbanan dan perjuangan Rasulullah. Hal itu menunjukkan merosotnya militansi di kalangan ulama-ulama amilin.
Mengapa hal itu juga terjadi di kalangan ulama, orang-orang yang notabene sudah sangat faham. Hal itu kiranya lebih disebabkan adanya pergeseran dalam hal cinta dan loyalitas, cinta kepada Allah, Rasul dan jihad di jalan-Nya telah digantikan dengan cinta kepada dunia.

Mentalitas Bal’am, ulama di zaman Fir’aun adalah mentalitas anjing sebagaimana digambarkan di Al-Qur’an. Dihalau dia menjulurkan lidah, didiamkan pun tetap menjulurkan lidah. Bal’am bukannya memihak pada Musa, malah memihak pada Fir’aun. Karena ia menyimpang dari jalur kebenaran, maka ia selalu dibayang-bayangi, didampingi syaithan. Ulama jenis Bal’am  tidak mau berpihak dan menyuarakan kebenaran karena lebih suka menuruti hawa nafsu dan tarikan-tarikan duniawi yang rendah.

Kader yang tulus dan bersemangat tinggi pasti akan memiliki wawasan berfikir yang luas dan mulia. Misalnya, manusia yang memang memiliki akal akan bisa mengerti tentang berharganya cincin berlian, mereka mau berkelahi untuk memperebutkannya. Tetapi anjing yang ada di dekat cincin berlian tidak akan pernah bisa mengapresiasi cincin berlian. Ia baru akan berlari mengejar tulang, lalu mencari tempat untuk memuaskan kerakusannya. Sampailah anjing tersebut di tepi telaga yang bening dan ia serasa melihat musuh di permukaan telaga yang dianggapnya akan merebut tulang darinya. Karena kebodohannya ia tak tahu bahwa itu adalah bayangan dirinya. Ia menerkam bayangan dirinya tersebut di telaga, hingga ia tenggelam dan mati.

Kebahagiaan sejati akan diperoleh manusia bila ia tidak bertumpu pada sesuatu yang fana dan rapuh, dan sebaliknya justru berorientasi pada keabadian.

Nabi Yusuf as sebuah contoh keistiqomahan, ia memilih di penjara daripada harus menuruti hawa nafsu rendah manusia. Ia yang benar di penjara, sementara yang salah malah bebas.

Ada satu hal lagi yang bisa kita petik dari kisah Nabi Yusuf as. Wanita-wanita yang mempergunjingkan Zulaikha diundang ke istana untuk melihat Nabi Yusuf. Mereka mengiris-iris jari-jari tangan mereka karena terpesona melihat Nabi Yusuf. “Demi Allah, ini pasti bukan manusia”. Kekaguman dan keterpesonaan mereka pada seraut wajah tampan milik Nabi Yusuf membuat mereka tidak merasakan sakitnya teriris-iris.

Hal yang demikian bisa pula terjadi pada orang-orang yang punya cita-cita mulia ingin bersama para nabi dan rasul, shidiqin, syuhada dan shalihin. Mereka tentunya akan sanggup melupakan sakitnya penderitaan dan kepahitan perjuangan karena keterpesonaan mereka pada surga dengan segala kenikmatannya yang dijanjikan.

Itulah ibrah yang harus dijadikan pusat perhatian para da’i. Apalagi berkurban di jalan Allah adalah sekedar mengembalikan sesuatu yang berasal dari Allah jua. Kadang kita berat berinfaq, padahal harta kita dari-Nya. Kita terlalu perhitungan dengan tenaga dan waktu untuk berbuat sesuatu di jalan Allah padahal semua yang kita miliki berupa ilmu dan kemuliaan keseluruhannya juga berasal dari Allah. Semoga kita terhindar dari penyimpangan-penyimpangan seperti itu dan tetap memiliki jiddiyah, militansi untuk senantiasa berjuang di jalan-Nya. Amin.
Wallahu a’lam bis shawab

(Taujih dari Alm. KH. Ust. Rahmat Abdullah)

rahmat_abdullah





Perjalanan yang Terus Menaik

16 10 2008

Perjalanan dakwah ini memang bukanlah suatu jalan yang menurun. Disaat kita mengazzamkan diri di dalam jalan ini, disanalah Allah membuka cobaan yang belum pernah kita duga sebelumnya. Seakan-akan cobaan berada dimana-mana mengelilingi kita, tidak seperti pada saat kita menjadi “orang biasa”. Tapi dengan cobaan-cobaan itulah, Allah Membuka pintu amal kebaikan selebar-lebarnya bagi siapa saja yang menginginkannya. Disana juga Allah Melatih dan Mendidik diri-diri ini agar menjadi insan yang lebih baik, insyaAllah. Jadi, janganlah bersedih hati terhadap cobaan-cobaan yang mendera ini. Bisa jadi, inilah salah satu cara Allah untuk Mengungkapkan rasa cinta-Nya kepada hamba-Nya yang beriman. Bukankah bisa jadi sesuatu itu buruk, tidak menyenangkan di mata kita padahal sesungguhnya di pandangan Allah sesuatu itu baik bagi kita?

Semoga Allah Menyelamatkan hatiku dari benih-benih kemunafikan, sifat ujub, takabur, riya dan segala keburukan yang bisa timbul dari tulisan ini. Milik Allah-lah segala cobaan yang datang bersama jalan keluarnya, diri ini beserta segala sifat baik dan buruk yang terkandung di hatinya, dan semua yang ada di alam semesta raya ini yang seakan tak terbatas luasnya karena batas-batasnya belum pernah diketahui oleh ilmu yang dimiliki manusia -semuanya bergerak karena Dia-lah yang Menggerakan semua-. Hanya kepada-Nyalah kita semua bertawakkal.

Semoga Allah Memberikan kemudahan bagi siapa saja yang sedang mengalami kesusahan.amin.