Mencintai Diri Sendiri

25 02 2009

Tumpukan buletin Jumat itu sudah menumpuk di salah satu sudut meja belajar. Saya jadi berpikir mungkin inilah waktunya bagi saya untuk memusnahkan lembaran-lembaran hikmah tersebut dengan cara membakarnya.

Membakarnya???

Iya. Karena diantara lembaran-lembaran hikmah tersebut banyak yang memuat kutipan ayat-ayat suci Al-Quran. Supaya ayat-ayat suci tersebut tidak tercecer, maka lembaran-lembaran tersebut harus dimusnahkan. Bukan bermaksud negatif loh. Amal itu tergantung pada niatnya.

Sambil mengumpulkan lembaran-lembaran tersebut, mata saya melihat-lihat isi lembaran-lembaran tersebut sekilas. Wah, ternyata diantara lembaran-lembaran itu terdapat sebuah kisah himah* yang pernah menjadi favorit saya di waktu kuliah dulu. Disitu tertulis tanggal 27 April 2007. Berarti sekitar dua tahun yang lalu lembaran itu dicetak, sewaktu saya masih kuliah di tingkat tiga.

Karena isinya lumayan bagus, jadi saya ingin mensharenya di blog ini. Berikut ini adalah isi dari lembaran tersebut. Jazakumullah untuk penulisnya. Semoga bermanfaat.^^

=============

Duh, koq aku gendut banget ya??

Duh, koq aku bodoh banget ya, ngerjain soal UTS aja ga bisa!

Mungkin kita sering sekali mendengar keluhan-keluhan seperti itu. Setiap orang biasanya mengeluhkan tentang diri mereka yang tidak sempurna. Kurang inilah, kurang itulah. Padahal jika kita menlilik lebih jauh lagi dan mencoba melihat diri kita dari sisi yang berbeda, kita akan melihat bahwa Allah SWT telah memberikan berbagai hal yang menakjubkan dan hanya ada pada diri kita, manusia.

Kadang kita tidak pernah menyadari bahwa diri kita diciptakan begitu kompleks. Begitu rumit. Milyaran sel yang telah menusun tubuh kita dengan jenis dan fungsi yang berbeda antara satu dan lainnya adalah bukti bahwa kita bukan diciptakan secara kebetulan, namun dengan keseriusan dan ketelitian tingkat tinggi.

Pernahkah Anda bayangkan, jika kita diciptakan oleh Allah SWT sebagai seekor tikus? Kita saja sebagai manusia terkadang merasa jijik pada tikus. Nah, jika kita diciptakan menjadi tikus, apa kita juga akan jijik pada diri kita sendiri? Dan apakah tikus jijik pada dirinya sendiri karena telah diciptakan menjadi seekor tikus?

Kedua mata sipit kita untuk melihat setiap hari, hidung kita yang tidak terlalu mancung untuk bernapas, kulit sawo matang kita yang senantiasa melindungi dari sengatan matahari, rambut keriting (bukan hasil rebonding) yang selalu melindungi kepala kita, adalah hal-hal yang sangat jarang kita syukuri. Terkadang kita selalu melihat sesuatu dari sisi negatifnya, padahal banyak sekali manfaat yang kita dapatkan jika kita mulai melihat dari sudut pandang yang lain, sisi positif dari diri kita.

Saya punya seorang teman. Tubuhnya relatif pendek dibandingkan dengan teman-temannya. Namun Ia selalu tersenyum kepada setiap orang. Ia tidak pernah merasa minder dengan tinggi badannya itu. Suatu hari Ia mengatakan sebuah kalimat yang membuat saya terhenyak, “Kita selalu mencari orang yang kita cintai, namun pernahkah kita mencoba mencarinya di depan cermin?”

Ya! Saat kita melihat ke dalam cermin, tampak seseorang yang sudah sangat kita kenal. Siapakah dia, yang sangat kotor dan memandang kita dengan pandangan yang begitu tidak bahagia? Itulah diri kita.

Tidakkah kita tergerak untuk mengasihinya?

Banyak sekali hal yang dapat kita lakukan untuknya. Saatnya kita mengurangi keluhan tentang kekurangan-kekurangannya dan merasa nyaman dengannya setiap saat. Dan Anda akan merasa sama hebatnya dengan orang lain.

Ada sebuah kata-kata bijak yang sangat saya sukai.

Seperti halnya adil tidak selalu harus sama, bukankah ideal juga tidak harus sempurna?

* Buletin Mingguan Salman IQRA!, Jumat 20 April 2007, Oleh Rifina Yanurita Afandi

Advertisements




Mencari Sekeping Hikmah dari Perjalanan Sumedang-Semarang-Jogja-Bandung

5 01 2009

Sabtu kemarin ini, 27 Desember 2008, saya dan keluarga pergi ke daerah Jawa Tengah. Kita berangkat dari The Grand Tofu City (sebutan kerennya buat Kota Tahu :p ) pukul 03.30 dini hari, dan sampai di Kota Semarang pukul 12.00 tengah hari. Perjalanan delapan jam lebih memang cukup lama, tapi Alhamdulillah tubuh ini masih fit untuk digunakan for next activities (soalnya sepanjang perjalanan tidur terus, hehehe).

Di Semarang ini, saya memenuhi undangan dari salah satu sanak saudara (saudara sepupunya ibu saya) yang kini sedang mengadakan acara “terban“-an. Acara terbanan itu mirip dengan acara “unduh mantu”nya orang Jawa, tapi yang ini berasal dari budaya Arab (tapi ya nggak tau juga ya, ini juga masih sok tau ^^). Yaa pokoknya acaranya cukup meriah: ada nyanyi-nyanyi pake Bahasa Arab, musik Arab, hidangannya pake daging kambing, serasa ada di tengah gurun pasir euy! Tinggal ditambahin onta aja, hehehe. Oh ya, selama acara berlangsung, di Masjid dekat rumah juga sedang ada pengajian dari Ust. Abu Bakar Ba’asyir. Wuihh… pengamanannya dari Polri ketat banget, kerennn!!! Saya nyempetin datang ke acara beliau, mastiin kalau yang di tipi itu bener-bener sama dengan aslinya. Ternyata bener.

Sabtu malam, pukul 22.30, acaranya selesai. Sehabis itu ada diskusi sebentar mengenai “future sakinah family“. Kemudian pukul 24.00 saya pergi meninggalkan Semarang menuju hometown kedua orangtuaku, Kota Budeg, eh Gudeg: Jogjakarta.

Saya sampai di Jogja Minggu dini hari, pukul 02.30. Sehabis itu acaranya langsung tidur.

Di Jogja ini, misi utama saya adalah menjenguk bibi saya (adiknya bapak) yang sedang terbaring sakit di RS Sardjito. Beliau ini sedang dicoba oleh Allah SWT dengan penyakit kanker pada langit-langit mulut. Lama saya tak bersua dengan beliau, dan sangat kaget, prihatin sekaligus sedih hati saya ketika kemarin bertemu dengan beliau. Beliau begitu berubah.

Rambut beliau yang dahulu tebal kini habis dipotong karena harus mengikuti kemoterapi. Tubuh beliau yang dahulu sehat dan segar, kini berubah menjadi rapuh dan sangat kurus. Dan yang paling memperihatinkan, dari rongga mulut beliau terlihat seonggok daging kanker berwarna hitam yang membuat beliau tidak dapat menutup mulutnya, dan membuatnya terus merasa kesakitan (Yaa Allah…). Kankernya kini sudah menyebar ke bagian hidung dan menyebabkan lubang hidung beliau mampet sebelah. Oleh karenanya, beliau menolak menggunakat NGT (alat bantu penceranaan berupa selang yang dimasukan ke dalam rongga hidung untuk memasukan makanan kedalam rongga perut) karena apabila lubang hidung beliau yang tersisa itu dipasangi NGT, beliau akan kesulitan bernafas. Terpaksalah beliau harus bersusah payah memasukan makanan (susu) lewat mulut apabila beliau lapar, walaupun dengan diiringi oleh terjadinya pendarahan berulangkali setiap beliau makan…T_T

Tak ada kesan yang tersisa dari kunjungan saya ke RS. Sardjito kemarin kecuali rasa prihatin kepada para pasien disana, dan rasa syukur atas nikmat kesehatan yang Allah SWT masih berikan kepada saya (semoga tetap sehat selalu, amin).

Minggu malam, pukul 21.00, saya berangkat pulang menuju Kota Schumedanche (nama keren yang lain lagi untuk Kota Sumedang :p). Perjalanan kali ini cukup lama, karena kakakku tersayang sebagai pak supir sudah banyak terkuras tenaganya dan harus sering beristirahat di tengah perjalanan. Bukannya saya tidak mau menggantikan beliau menyetir, tapi apa daya memang saya tidak dapat menyetir mobil dengan baik. Sampai di Sumedang pukul 09.00 pagi.

Siangnya, sebuah kepentingan yang sangat penting mengharuskan saya pergi ke Kota Bandung karena ini menyangkut hajat yang mungkin terbesar dalam hidup saya (huaduh J). Berangkat dari Sumedang pukul 11.30, sampai di Bandung sekitar pukul 13.40. Kemudian saya membeli es shanghai di daerah Simpang Dago untuk mengobati rindu saya di masa kuliah dulu dan untuk menjaga agar asupan gizi dalam tubuh ini tetap baik. Pukul 14.15 setelah urusan saya di Bandung selesai, dan saya langsung pulang ke Grand Tofu City. Kalau dihitung-hitung, saya di Bandung Cuma setengah jam-an.. buusyeet… mungkin ini waktu tercepat saya selama ini untuk kunjungan ke Bandung.

Sampai kembali di Schumedanche pukul 16.30, ternyata badan sudah tidak kuat lagi menahan letih. Tergeletak lemas lah tubuh tersayang ini di ranjang. Memang, tubuh pun mempunyai hak atas kita, dan kali ini mungkin adalah saat si tubuh menuntut lebih atas haknya yang telah kita tunda-tunda : istirahat. Kalo diinget-inget, ternyata cukup lama juga badan ini dibawa perjalanan kesana kemari: sekitar 27 jam. Kalau sudah seperti ini, apa-apa menjadi tidak enak: shalat ga kerasa “feel”nya, tilawah ga kuat suaranya, baca buku ga bisa fokus, huaduh… mungkin satu hal yang masih bisa tetep enjoy untuk dilakukan di saat-saat seperti ini: nulis blog ini sambil tiduran di kasur, :D.

Allah SWT telah memberi suatu pelajaran dan peringatan yang sangat berharga bagi saya dari perjalanan selama tiga hari ini, dan itu adalah mengenai rasa syukur atas kesehatan yang Allah SWT berikan. Kenikmatan terbesar kedua setelah kenikmatan iman adalah kesehatan. Udah deh, pokonya yang namanya sehat itu berharga banget, salah satu modal utama kita hidup! Makannya aneh apabila ada orang-orang yang diberi nikmat sehat tapi masih merasa serba kekurangan. Mereka terlalu sibuk dengan kekurangan dan keterbatasan yang ada pada diri mereka, padahal mereka mengabaikan limpahan kelebihan dan keleluasaan yang Allah anugerahkan kepada mereka.

Sebagai tambahannya, manifestasi dari rasa syukur itu juga bisa diwujudkan berupa kasih sayang kita terhadap saudara-saudara kita yang sedang ditimpa cobaan berupa kurangnya kesehatan. Namanya orang yang lagi ditimpa cobaan sakit itu kerasa banget loh kalo ada orang yang ngasih bantuan kepadanya, walaupun bantuannya cuma sedikit. Manifestasi rasa syukur lainnya adalah menjaga agar tubuh kita tetap sehat dengan cara menunaikan apa-apa yang menjadi hak tubuh kita atas diri kita (memilihkan makanan yang sehat, olahraga dan istirahat yang teratur, dan lainnya).  Dengan begitu, nikmat sehat insya Allah akan tetap Allah SWT limpahkan kepada kita. Semoga kita bisa mensyukuri nikmat sehat yang Allah SWT berikan ini, dan Allah SWT melanggengkan nikmat sehat-Nya atas diri kita semua, amin.

abuu u laka bini’matika ‘alayya, Yaa Rabbi…

Alhamdulillah…





Sedekah Pak Satpam (bag.1)

15 12 2008

Ini ada kisah ringan, diceritakan oleh Ust Yusuf Mansur tentang seorang Security POM Bensin. Baca kisah ini serasa denger sendiri ust Yusuf Mansyur lagi bicara di depan kita..

Semoga bermanfaat

***********************************
Satu hari saya jalan melintas di satu daerah.. Tetidur di dalam mobil. Saat terbangun, ada tanda pom bensin sebentar lagi. Saya pesen ke supir saya:

“Nanti di depan ke kiri ya”.
“Masih banyak, Pak Ustadz”.

Saya paham. Supir saya mengira saya pengen beli bensin. Padahal bukan. Saya pengen pipis.

Begitu berhenti dan keluar dari mobil, ada seorang sekuriti.

“PakUstadz!” .

Dari jauh ia melambai dan mendekati saya. Saya menghentikan langkah. Menunggu beliau.

“Pak Ustadz, alhamdulillah nih bisa ketemu Pak Ustadz. Biasanya kan hanya melihat di TV saja…”.

Saya senyum aja. Ga ke-geeran, insya Allah, he he he.

“Saya ke toilet dulu ya”.

“Nanti saya pengen ngobrol boleh Ustadz?”

“Saya buru-buru loh. Tentang apaan sih?”

“Saya bosen jadi satpam Pak Ustadz”.

Sejurus kemudian saya sadar, ini Allah pasti yang “berhentiin” saya. Lagi enak-enak tidur di perjalanan, saya terbangun pengen pipis. Eh nemu pom bensin. Akhirnya ketemu sekuriti ini. Berarti barangkali saya kudu bicara dengan dia. Sekuriti ini barangkali “target operasi” dakwah hari ini. Bukan jadwal setelah ini. Begitu pikir saya.

Saya katakan pada sekuriti yang mulia ini, “Ok, ntar habis dari toilet ya”.

**********

“Jadi, pegimana? Bosen jadi satpam? Emangnya ga gajian?”, tanya saya membuka percakapan.

Saya mencari warung kopi, untuk bicara-bicara dengan beliau ini. Alhamdulillah ini pom bensin bagus banget. Ada minimart nya yang dilengkapi fasilitas ngopi-ngopi ringan.

“Gaji mah ada Ustadz. Tapi masa gini-gini aja?”

“Gini-gini aja itu, kalo ibadahnya gitu-gitu aja, ya emang udah begitu. Distel kayak apa juga, agak susah buat ngerubahnya” .

“Wah, ustadz langsung nembak aja nih”.

Saya meminta maaf kepada sekuriti ini umpama ada perkataan saya yang salah. Tapi umumnya begitu lah manusia. Rizki mah mau banyak, tapi sama Allah ga mau mendekat. Rizki mah mau nambah, tapi ibadah dari dulu ya begitu-begitu saja.

“Udah shalat ashar?”

“Barusan Pak Ustadz. Soalnya kita kan tugas. Tugas juga kan ibadah, iya ga? Ya saya pikir sama saja”.

“Oh, jadi ga apa-apa telat ya? Karena situ pikir kerja situ adalah juga ibadah?”

Sekuriti itu senyum aja. Disebut jujur mengatakan itu, bisa ya bisa tidak. Artinya, sekuriti itu bisa benar-benar menganggap kerjaannya ibadah, tapi bisa juga ga. Cuma sebatas omongan doang. Lagian, kalo nganggap kerjaan-kerjaan kita ibadah, apa yang kita lakukan di dunia ini juga ibadah, kalau kita niatkan sebagai ibadah.

Tapi, itu ada syaratnya. Apa syaratnya? Yakni kalau ibadah wajibnya, tetap nomor satu. Kalau ibadah wajibnya nomor tujuh belas, ya disebut bohong tuh kerjaan adalah ibadah. Misalnya, kita niatkan usaha kita sebagai ibadah, boleh ga? Bagus malah. Bukan hanya boleh. Tapi kemudian kita menerima tamu sementara Allah datang. Artinya kita menerima tamu pas waktu shalat datang, dan kemudian kita abaikan shalat, kita abaikan Allah, maka yang demikian masihkah pantas disebut usaha kita adalah ibadah? Apalagi kalau kemudian hasil kerjaan dan hasil usaha, buat Allah nya lebih sedikit ketimbang buat kebutuhan-kebutuhan kita. Kayaknya perlu dipikirin lagi tuh sebutan-sebutan ibadah.

“Disebut barusan itu maksudnya jam setengah limaan ya? Saya kan baru jam 5 nih masuk ke pom bensin ini”

“Ya, kurang lebih dah”.

Saya mengingat diri saya dulu yang dikoreksi oleh seorang faqih, seorang ‘alim, bahwa shalat itu kudu tepat waktu. Di awal waktu. Tiada disebut perhatian sama Yang Memberi Rizki bila shalatnya tidak tepat waktu. Aqimish shalaata lidzikrii, dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. Lalu, kita bersantai-santai dalam mendirikan shalat. Entar-entaran. Itu kan jadi sama saja dengan mengentar-entarkan mengingat Allah. Maka saya ingatkan sekuriti yang entahlah saya merasa he is the man yang Allah sedang berkenan mengubahnya dengan mempertemukan dia dengan saya.

“Gini ya Kang. Kalo situ shalatnya jam setengah lima , untuk mengejar ketertinggalan dunia saja, jauh tuh. Butuh perjalanan satu setengah jam andai ashar ini kayak sekarang, jam tiga kurang dikit. Bila dalam sehari semalam kita shalat telat terus, dan kemudian dikalikan sejak akil baligh, sejak diwajibkan shalat, kita telat terus, maka berapa jarak ketertinggalan kita tuh? 5x satu setengah jam, lalu dikali sekian hari dalam sebulan, dan sekian bulan dalam setahun, dan dikali lagi sekian tahun kita telat.

Itu baru telat saja, belum kalo ketinggalan atau kelupaan, atau yang lebih bahayanya lagi kalau bener-benar lewat tuh shalat? Wuah, makin jauh saja mestinya kita dari senang”.

Saudara-saudaraku Peserta KuliahOnline, percakapan ini kurang lebih begitu. Mudah-mudahan sekuriti ini paham apa yang saya omongin. Dari raut mukanya, nampaknya ia paham. Mudah-mudahan demikian juga saudara-saudara ya? He he he. Belagu ya saya? Masa omongan cetek begini kudu nanya paham apa engga sama lawan bicara? Saya katakan pada dia. Jika dia alumni SMU, yang selama ini telat shalatnya, maka kawan-kawan selitingnya mah udah di mana, dia masih seperti diam di tempat. Bila seseorang membuka usaha, lalu ada lagi yang buka usaha, sementara yang satu usahanya maju, dan yang lainnya sempit usahanya, bisa jadi sebab ibadah yang satu itu bagus sedang yang lain tidak.

Dan saya mengingatkan kepada peserta KuliahOnline untuk tidak menggunakan mata telanjang untuk mengukur kenapa si Fulan tidak shalat, dan cenderung jahat lalu hidupnya seperti penuh berkah? Sedang si Fulan yang satu yang rajin shalat dan banyak kebaikannya, lalu hidupnya susah. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanya an seperti ini cukup kompleks. Tapi bisa diurai satu persatu dengan bahasa-bahasa kita, bahasa-bahasa kehidupan yang cair dan dekat dengan fakta. Insya Allah ada waktunya pembahasan yang demikian.

Kembali kepada si sekuriti, saya tanya,

“Terus, mau berubah?”

“Mau Pak Ustadz. Ngapain juga coba saya kejar Pak Ustadz nih, kalo ga serius?”

“Ya udah, deketin Allah dah. Ngebut ke Allah nya”.

“Ngebut gimana?”

“Satu, benahin shalatnya. Jangan setengah lima -an lagi shalat asharnya. Pantangan telat. Buru tuh rizki dengan kita yang datang menjemput Allah. Jangan sampe keduluan Allah”.

Si sekuriti mengaku mengerti, bahwa maksudnya, sebelum azan udah standby di atas sajadah. Kita ini pengen rizkinya Allah, tapi ga kenal sama Yang Bagi-bagiin rizki. Contohnya ya pekerja-pekerja di tanah air ini.. Kan aneh. Dia pada kerja supaya dapat gaji. Dan gaji itu rizki. Tapi giliran Allah memanggil, sedang Allah lah Tuhan yang sejatinya menjadikan seseorang bekerja, malah kelakuannya seperti ga menghargai Allah. Nemuin klien, rapih, wangi, dan persiapannya masya Allah. Eh, giliran ketemu Allah, amit-amit pakaiannya, ga ada persiapan, dan tidak segan-segan menunjukkan wajah dan fisik lelahnya. Ini namanya ga kenal sama Allah.

“Yang kedua,” saya teruskan. “Yang kedua, keluarin sedekahnya”.

Saya inget betul. Sekuriti itu tertawa.

“Pak Ustadz, pegimana mau sedekah, hari gini aja nih, udah pada habis belanjaan. Hutang di warung juga terpaksa dibuka lagi. Alias udah mulai ngambil dulu bayar belakangan”.

“Ah, ente nya aja kali yang kebanyakan beban. Emang gajinya berapa?”

“Satu koma tujuh, Pak ustadz”.

“Wuah, itu mah gede banget. Maaf ya, untuk ukuran sekuriti, yang orang sering sebut orang kecil, itu udah gede”.

“Yah, pan kudu bayar motor, bayar kontrakan, bayar susu anak, bayar ini bayar itu. Emang ga cukup Pak ustadz”.

“Itu kerja bisa gede, emang udah lama kerjanya?”

“Kerjanya sih udah tujuh taon. Tapi gede gaji bukan karena udah lama kerjanya. Saya ini kerjanya pagi siang sore malem, ustadz”.

“Koq bisa?”

“Ya, sebab saya tinggal di mess. Jadi dihitung sama bos pegimana gitu sampe ketemu angka 1,7jt”.

“Terus, kenapa masih kurang?”

“Ya itu, sebab saya punya tanggungan banyak”.

“Secara dunianya, lepas aja itu tanggungan. Kayak motor. Ngapain juga ente kredit motor? Kan ga perlu?”

“Pengen kayak orang-orang Pak Ustadz”.

“Ya susah kalo begitu mah. Pengen kayak orang-orang, motornya. Bukan ilmu dan ibadahnya. Bukan cara dan kebaikannya. Repot”.

Sekuriti ini nyengir. Emang ini motor kalo dilepas, dia punya 900 ribu. Rupanya angsuran motornya itu 900 ribu. Ga jelas tuh darimana dia nutupin kebutuhan dia yang lain. Kontrakan saja sudah 450 ribu sama air dan listrik. Kalo ngelihat keuangan model begini, ya nombok dah jadinya.

“Ya udah, udah keterlanjuran ya? Ok. Shalatnya gimana? Mau diubah?”

“Mau Ustadz. Saya benahin dah”.

“Bareng sama istri ya. Ajak dia. Jangan sendirian. Ibarat sendal, lakukan berdua. Makin cakep kalo anak-anak juga dikerahin.. Ikutan
semuanya ngebenahin shalat”.

“Siap ustadz”.

“Tapi sedekahnya tetap kudu loh”.

“Yah Ustadz. Kan saya udah bilang, ga ada”.

“Sedekahin aja motornya. Kalo engga apa keq”.

“Jangan Ustadz. Saya sayang-sayang ini motor. Susah lagi belinya. Tabungan juga ga ada. Emas juga ga punya”.

Sekuriti ini berpikir, saya kehabisan akal untuk nembak dia. Tapi saya akan cari terus. Sebab tanggung. Kalo dia hanya betulin shalatnya saja, tapi sedekahnya tetap ga keluar, lama keajaiban itu akan muncul. Setidaknya menurut ilmu yang saya dapat. Kecuali Allah berkehendak lain. Ya lain soal itu mah. Sebentar kemudian saya bilang sama ini sekuriti,

“Kang, kalo saya tunjukin bahwa situ bisa sedekah, yang besar lagi sedekahnya, situ mau percaya?”.

Si sekuriti mengangguk.

“Ok, kalo sudah saya tunjukkan, mau ngejalanin?”

Sekuriti ini ngangguk lagi.

“Selama saya bisa, saya akan jalanin,” katanya, manteb.

“Gajian bulan depan masih ada ga?”

“Masih. Kan belum bisa diambil?”

“Bisa. Dicoba dulu”.

“Entar bulan depan saya hidup pegimana?”

“Yakin ga sama Allah?”

“Yakin”.

“Ya kalo yakin, titik. Jangan koma. Jangan pake kalau”.

Sekuriti ini saya bimbing untuk kasbon. Untuk sedekah. Sedapetnya. Tapi usahakan semua. Supaya bisa signifikan besaran sedekahnya. Sehingga perubahannya berasa. Dia janji akan ngebenahin mati-matian shalatnya. Termasuk dia akan polin shalat taubatnya, shalat hajatnya, shalat dhuha dan tahajjudnya. Dia juga janji akan rajinin di waktu senggang untuk baca al Qur’an. Perasaan udah lama banget dia emang ga lari kepada Allah. Shalat Jum’at aja nunggu komat, sebab dia sekuriti. Wah, susah dah. Dan itu dia aminin. Itulah barangkali yang sudah membuat Allah mengunci mati dirinya hanya menjadi sekuriti sekian tahun, padahal dia Sarjana Akuntansi!

Ya, rupanya dia ini Sarjana Akuntansi. Pantesan juga dia ga betah dengan posisinya sebagai sekuriti. Ga kena di hati. Ga sesuai sama rencana. Tapi ya begitu dah hidup.. Apa boleh buta, eh, apa boleh buat. Yang penting kerja dan ada gajinya. Bagi saya sendiri, ga mengapa punya banyak keinginan. Asal keinginan itu keinginan yang diperbolehkan, masih dalam batas-batas wajar. Dan ga apa-apa juga memimpikan sesuatu yang belom kesampaian sama kita. Asal apa? Asal kita barengin dengan peningkatan ibadah kita. Kayak sekarang ini, biarin aja harga barang pada naik. Ga usah kuatir. Ancem aja diri, agar mau menambah ibadah-ibadahnya. Jangan malah berleha-leha. Akhirnya hidup kemakan dengan tingginya harga.. Ga kebagian.

*******

Sekuriti ini kemudian maju ke atasannya, mau kasbon. Ketika ditanya buat apa? Dia nyengir ga jawab. Tapi ketika ditanya berapa? Dia jawab, Pol. Satu koma tujuh. Semuanya.

“Mana bisa?” kata komandannya.

“Ya Pak, saya kan ga pernah kasbon. Ga pernah berani. Baru ini saya berani”.

Komandannya terus mengejar, buat apa? Akhirnya mau ga mau sekuriti ini jawab dengan menceritakan pertemuannya dengan saya.

Singkat cerita, sekuriti ini direkomendasikan untuk ketemu langsung sama ownernya ini pom bensin.. Katanya, kalau pake jalur formal, dapet kasbonan 30% aja belum tentu lolos cepet. Alhamdulillah, bos besarnya menyetujui. Sebab komandannya ini ikutan merayu,

“Buat sedekah katanya Pak”, begitu kata komandannya.

Subhaanallaah, satu pom bensin itu menyaksikan perubahan ini. Sebab cerita si sekuriti ini sama komandannya, yang merupakan kisah
pertemuannya dengan saya, menjadi kisah yang dinanti the end story nya. Termasuk dinanti oleh bos nya.

“Kita coba lihat, berubah ga tuh si sekuriti nasibnya”, begitulah pemikiran kawan-kawannya yang tahu bahwa si sekuriti ini ingin berubah bersama Allah melalui jalan shalat dan sedekah.





Sedekah Pak Satpam (bag.2)

15 12 2008

Hari demi hari, sekuriti ini dilihat sama kawan-kawannya rajin betul shalatnya. Tepat waktu terus. Dan lumayan istiqamah ibadah-ibadah sunnahnya. Bos nya yang mengetahui hal ini, senang. Sebab tempat kerjanya jadi barokah dengan adanya orang yang mendadak jadi saleh begini. Apalagi kenyataannya si sekuriti ga mengurangi kedisiplinan kerjaannya.. Malah tambah cerah muka nya.

Sekuriti ini mengaku dia cerah, sebab dia menunggu janjinya Allah. Dan dia tahu janji Allah pastilah datang. Begitu katanya, menantang ledekan kawan-kawannya yang pada mau ikutan rajin shalat dan sedekah, asal dengan catatan dia berhasil dulu.

Saya ketawa mendengar dan menuliskan kembali kisah ini. Bukan apa-apa, saya demen ama yang begini. Sebab insya Allah, pasti Allah tidak akan tinggal diam. Dan barangkali akan betul-betul mempercepat perubahan nasib si sekuriti. Supaya benar-benar menjadi tambahan uswatun hasanah bagi yang belum punya iman. Dan saya pun tersenyum dengan keadaan ini, sebab Allah pasti tidak akan mempermalukannya juga, sebagaimana Allah tidak akan mempermalukan si sekuriti.

Suatu hari bos nya pernah berkata,

“Kita lihatin nih dia. Kalo dia ga kasbon saja, berarti dia berhasil. Tapi kalo dia kasbon, maka kelihatannya dia gagal. Sebab buat apa sedekah 1 bulan gaji di depan yang diambil di muka, kalau kemudian kas bon. Percuma”.

Tapi Subhaanallah, sampe akhir bulan berikutnya, si sekuriti ini ga kasbon.

Berhasil kah?

Tunggu dulu. Kawan-kawannya ini ga melihat motor besarnya lagi. Jadi, tidak kasbonnya dia ini, sebab kata mereka barangkali aman sebab jual motor. Bukan dari keajaiban mendekati Allah.

Saatnya ngumpul dengan si bos, ditanyalah si sekuriti ini sesuatu urusan yang sesungguhnya adalah rahasia dirinya.

“Bener nih, ga kasbon? Udah akhir bulan loh. Yang lain bakalan gajian. Sedang situ kan udah diambil bulan kemaren”.

Sekuriti ini bilang tadinya sih dia udah siap-siap emang mau kasbon kalo ampe pertengahan bulan ini ga ada tanda-tanda. Tapi kemudian cerita si sekuriti ini benar-benar bikin bengong orang pada.

Sebab apa? Sebab kata si sekuriti, pasca dia benahin shalatnya, dan dia sedekah besar yang belum pernah dia lakukan seumur hidupnya, yakni hidupnya di bulan depan yang dia pertaruhkan, terjadi keajaiban. Di kampung, ada transaksi tanah, yang melibatkan dirinya. Padahal dirinya ga terlibat secara fisik. Sekedar memediasi saja lewat sms ke pembeli dan penjual. Katanya, dari transaksi ini, Allah persis mengganti 10x lipat. Bahkan lebih. Dia sedekah 1,7jt gajinya. Tapi Allah mengaruniainya komisi penjualan tanah di kampungnya sebesar 17,5jt. Dan itu terjadi begitu cepat. Sampe-sampe bulan kemaren juga belum selesai. Masih tanggalan bulan kemaren, belum berganti bulan.

Kata si sekuriti, sadar kekuatannya ampe kayak gitu, akhirnya dia malu sama Allah. Motornya yang selama ini dia sayang-sayang, dia jual! Uangnya melek-melek buat sedekah. Tuh motor dia pake buat ngeberangkatin satu-satunya ibunya yang masih hidup. Subhaanallaah kan ? Itu jual motor, kurang. Sebab itu motor dijual cepat harganya ga nyampe 13 juta. Tapi dia tambahin 12 juta dari 17jt uang cash yang dia punya. Sehingga ibunya punya 25 juta. Tambahannya dari simpenan ibunya sendiri.

Si sekuriti masih bercerita, bahwa dia merasa aman dengan uang 5 juta lebihan transaksi. Dan dia merasa ga perlu lagi motor. Dengan uang ini, ia aman. Ga perlu kasbon.

Mendadak si bos itu yang kagum. Dia lalu kumpulin semua karyawannya, dan menyuruh si sekuriti ini bercerita tentang keberkahan yang dilaluinya selama 1 bulan setengah ini.

Apakah cukup sampe di situ perubahan yang terjadi pada diri si sekuriti?

Engga. Si sekuriti ini kemudian diketahui oleh owner pom bensin tersebut sebagai sarjana S1 Akuntansi. Lalu dia dimutasi di perusahaan si owner yang lain, dan dijadikan staff keuangan di sana . Masya Allah, masya Allah, masya Allah. Berubah, berubah, berubah.

Saudara-saudaraku sekalian.. Cerita ini bukan sekedar cerita tentang Keajaiban Sedekah dan Shalat saja. Tapi soal tauhid. soal keyakinan dan iman seseorang kepada Allah, Tuhannya. Tauhid, keyakinan, dan imannya ini bekerja menggerakkan dia hingga mampu berbuat sesuatu. Tauhid yang menggerakkan! Begitu saya mengistilahkan. Sekuriti ini mengenal Allah. Dan dia baru sedikit mengenal Allah. Tapi lihatlah, ilmu yang sedikit ini dipake sama dia, dan diyakini. Akhirnya? Jadi! Bekerja penuh buat perubahan dirinya, buat perubahan hidupnya.

*Dari Budi –dengan perubahan-perubahan kecil seperlunya–, di sebuah milis





Penjual bubur ayam dan shalat dhuha

3 12 2008

Di Bandung tepatnya di daerah Jl. Dalem Kaum, yang satu arah, di sebelah gedung Palaguna yang saat ini sudah tidak dipergunakan, ada seorang kakek-kakek tua gemuk yang berjualan bubur ayam.
Kalau kita lihat selintas, beliau berjualan bubur tersebut tidak ada sesuatu yang istimewa, seperti bubur yang lainnya.

Bubur ayam tersebut apabila di hari-hari biasa habis sekitar pukul 8 pagi untuk, untuk hari minggu ? jam 7 sudah ludes!!!!

Rasanya ?
sangat nikmat, selama hidup saya di Bandung, baru kali ini saya merasakan bubur ayam yang senikmat ini.

Saya perhatikan, beliau dalam melayani para pembelinya selalu dengan sepenuh hati, beliau memotong-motong ayam dan ati ampela nya se lembut mungkin, apabila ada tulang, beliau sisihkan, tidak dihidangkan, beliau taburkan ayam dan ati ampela tersebut sebanyak mungkin hingga mangkuknya terlihat sangat penuh. sehingga kita pun tidak merasa rugi sedikit pun dengan membeli bubur ayam seharga Rp.10.000 / mangkuk.

Di dahi nya terlihat menghitam, tanda seringnya beliau bersujud kepada ALLAH, mukanya bercahaya tanda sering terbasuh oleh air wudhu… mukanya terlihat damai… jauh dari pikiran buruk kepada orang lain.

Apabila ada gelandangan yang lewat dan meminta sedikit makanan, beliau langsung menyajikan dan memberikan satu buah mangkuk penuh berisi bubur ayam tanpa meminta bayaran :

beliau hanya berkata ” keun weh karunya, bapa mah mening ngaladangan nu nyuhunkeun kitu tibatan ngaladangan preman2 nu emam bubur tapi kalalabur teu malayar”

(ga apa-apa, bapak sih mendingan melayani orang yang meminta secara sopan kepada saya daripada melayani preman-preman yang berlagak sok mau membeli tapi akhirnya tidak membayar ).

Lalu saya memberanikan diri untuk membuka pembicaraan dengan beliau…

Saya : ” Assalamu’alaikum Pak Haji, kumana damang Pajeng pa haji ?
(Assalamu’alakum Pak Haji, Gimana kabarnya? laku ya pak dagangannya? )

Penjual Bubur : ” Alhamdulillah Den, cekap kangge tuang mah…
(Alhamdulillah nak, cukup untuk makan sehari-hari)

Saya : ” Parantos sabaraha lami icalan didieu pa haji teh ?
(Sudah berapa lama bapak berjualan di sini pak?)

Penjual Bubur : ” Ti Taun 78 Den, Alhamdulillah mayeng.. Alhamdulillah tos tiasa angkat ka haji 2 x, putra tos jararanten sadayana… Alhamdulillah Den…
(Dari tahun 1978 nak, Alhamdulillah lancar… Alhamdulillah sudah bisa berangkat haji 2 x, anak saya semuanya sudah jadi orang.. Alhamdulillah nak.)

Saya : ” Rahasiana naon eta teh Pa Haji ?”
(Apa rahasianya pak haji?)

Penjual Bubur : “ULAH HILAP SHALAT DHUHA UNGGAL ENJING-ENJING INSYA ALLAH DIMUDAHKEUN URUSAN KU GUSTI NU MAHA SUCI
(Jangan lupa laksanakan Shalat Dhuha setiap pagi, Insya Allah dimudahkan segala urusan oleh ALLAH SWT)

Di dunia mah hirup mung sakedap den, ayeuna mah urang siap-siap weh nyanghareupan sakaratul maut, ulah silap ku harta banda, moal dicandak ka liang lahat. kade ulah nuang rezeki nu haram. Insya Allah disayang ku Gusti.
(Hidup di dunia hanya sebentar nak, sekarang kita harus bersiap-siap menghadapi sakaratul maut, jangan tergiur oleh kemewahan dalam mengejar harta benda duniawi, percuma, hal tersebut tidak akan kita bawa ke liang lahat. Hindari memakan rezeki yang haram. Insya Allah akan disayang oleh Allah SWT.)

Saya : Pa haji, upami tabuh 7 tos se’ep mah naha teu nyandak langkung bubur teh ? naha mung nyandak 5 kg wae
(Pa Haji, bila setiap hari jam 7 pagi dagangan sudah habis, kenapa ga bawa buburnya dilebihin aja dari 5 kg? kenapa hanya di pas ambil 5 Kg)

Penjual Bubur : Mun dilangkungan, sok kacandak deui ka bumi, janten mubah. Panginten rezekina ti ALLAH mung 5 kg sadinten, eta teh kacandak Rp. 1jt sadinten, upami dinten minggon tiasa kacandak Rp. 2 jt sadinten..
(Bila dilebihin, suka jadi mubazir, akhirnya terbawa kembali ke rumah. Mungkin rezekinya dari ALLAH hanya 5 KG sehari, itu juga Bapak bisa bawa pulang 1 juta rupiah sehari, apabila hari minggu bisa bawa pulang 2 Jt..

Allah senantiasa memberikan Rahmat-Nya kepada setiap makhluk yang dikehendaki- Nya. Bahkan kepada bapak yang sehari-harinya hanya menjual bubur ayam…

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman” (QS. Ar-Ruum(30): 37)

Apakah kita termasuk umat yang diberi rahmat dan hidayah-Nya ?
Hanya Kita sendiri yang bisa menjawabnya. …

*Seperti yang telah dituturkan oleh saudara Wawan Nirwana, almunus T. Geodesi ITB ’85 di milis IA-GD, dengan sedikit perubahan





Maafkan, lalu Lupakan…

4 11 2008

Di dalam film yang berjudul Sang Murabbi (2008), KH. Rahmat Abdullah yang diperankan oleh Irwan Renaldi berkata kepada kakaknya (atau adiknya, saya lupa) yang sedang mempunyai masalah dengan dua orang preman teman menyabung ayamnya,

“Ada dua hal yang harus selalu kamu ingat, perbuatan baik orang lain terhadap kamu, dan perbuatan burukmu terhadap orang lain. Dan juga ada dua hal yang harus kamu lupakan, perbuatan buruk orang lain terhadap dirimu, dan perbuatan baikmu terhadap orang lain…”

Dua patah kalimat yang sederhana memang. Tapi itulah sebenarnya yang menjadi keluhuran akhlaq dan kunci komunikasi seorang Mukmin terhadap saudaranya yang lain, mudah memaafkan
dan berempati. Pada implikasinya, ternyata sepasang kalimat di atas tidak semudah mengucapkannya. Perlu kecerdasan emosi
yang tinggi untuk bisa melakukannya ^^. Kecerdasan emosi yang dibutuhkan pun akan berbeda, base on siapa objek yang sedang kita hadapi.

Dua patah kalimat diatas akan mudah kita aplikasikan dalam hidup kita apabila yang kita hadapi adalah orang-orang yang kita sayangi – dan juga menyayangi kita. Orang tua kita, saudara kandung kita, murabbi kita, teman dekat kita, atau istri kita, tentunya akan mudah bagi kita untuk memaafkan kesalahan-kesalahan mereka, berusaha mengingat-ingat kebaikan mereka, dan seterusnya. Namun, lain halnya apabila yang sedang kita hadapi adalah orang yang memang benar-benar banyak “merugikan” hidup kita. Bagaimana bisa kita mengingat-ingat kebaikan mereka dan melupakan keburukan-keburukan mereka sementara jumlah kebaikan yang telah mereka lakukan jauh lebih sedikit daripada keburukan yang telah mereka lakukan terhadap kita?

Dalam sebuah hadits diriwayatkan, Rasulullah SAWW suatu hari pernah menyebut-nyebut salah seorang sahabat beliau sebagai penghuni surga. Abdullah bin Amr bin Ash yang saat itu sedang bersama Rasulullah SAWW diliputi perasaan penasaran, bagaimana sang sahabat tersebut bisa disebut oleh Rasulullah SAWW sebagai penghuni surga. Ia pun akhirnya meminta izin kepada sahabat tersebut untuk ikut menginap di rumahnya agar ia bisa mengetahui amal shaleh apa yang menyebabkan sahabat tersebut disebut-sebut oleh Rasulullah SAWW sebagai penghuni surga. Kemudian sang sahabat pun mengizinkan.

Tiga malam telah dilalui, ternyata Ibnu Umar tidak melihat suatu yang istimewa dari sahabat tersebut dalam ibadahnya. Akhirnya, ia pun berterusterang kepada sang sahabat perihal keingintahuannya mengenai ibadah istimewa yang telah dilakukan sang sahabat yang membuatnya disebut penghuni surga oleh Rasulullah SAWW. Sang sahabat kemudian menjawab bahwa apa yang ia amalkan setiap hari tidak lebih dari apa yang Ibnu Umar saksikan. Hanya saja, ia kerap melakukan evaluasi diri
menjelang tidurnya setiap malam, lalu ia hapus semua rasa gundahnya pada sesama Muslim. Dengan itulah sang sahabat tersebut menjadi penghuni surga, bahkan ketika ia masih di dunia..

See? Tidak sulit menggapai kunci untuk menjadi penghuni surga. Namun juga tidak mudah. Maafkanlah kesalahan, lupakan, dan sebarkanlah kebaikan.

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan
(hartanya di jalan Allah), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya
dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal. (QS. Ali Imran 133-136)

(terinspirasi dari sebuah pengalaman pribadi: ada orang yang dirasa terusss merugikan hingga suatu saat orang tersebut melakukan sebuah kebaikan, yang dengannya Allah SWT menggetarkan hati ini, kemudian menggerakan tangan ini untuk menulis sesuatu. Alhamdulillah ‘alaa kulli haal)