Penjual bubur ayam dan shalat dhuha

3 12 2008

Di Bandung tepatnya di daerah Jl. Dalem Kaum, yang satu arah, di sebelah gedung Palaguna yang saat ini sudah tidak dipergunakan, ada seorang kakek-kakek tua gemuk yang berjualan bubur ayam.
Kalau kita lihat selintas, beliau berjualan bubur tersebut tidak ada sesuatu yang istimewa, seperti bubur yang lainnya.

Bubur ayam tersebut apabila di hari-hari biasa habis sekitar pukul 8 pagi untuk, untuk hari minggu ? jam 7 sudah ludes!!!!

Rasanya ?
sangat nikmat, selama hidup saya di Bandung, baru kali ini saya merasakan bubur ayam yang senikmat ini.

Saya perhatikan, beliau dalam melayani para pembelinya selalu dengan sepenuh hati, beliau memotong-motong ayam dan ati ampela nya se lembut mungkin, apabila ada tulang, beliau sisihkan, tidak dihidangkan, beliau taburkan ayam dan ati ampela tersebut sebanyak mungkin hingga mangkuknya terlihat sangat penuh. sehingga kita pun tidak merasa rugi sedikit pun dengan membeli bubur ayam seharga Rp.10.000 / mangkuk.

Di dahi nya terlihat menghitam, tanda seringnya beliau bersujud kepada ALLAH, mukanya bercahaya tanda sering terbasuh oleh air wudhu… mukanya terlihat damai… jauh dari pikiran buruk kepada orang lain.

Apabila ada gelandangan yang lewat dan meminta sedikit makanan, beliau langsung menyajikan dan memberikan satu buah mangkuk penuh berisi bubur ayam tanpa meminta bayaran :

beliau hanya berkata ” keun weh karunya, bapa mah mening ngaladangan nu nyuhunkeun kitu tibatan ngaladangan preman2 nu emam bubur tapi kalalabur teu malayar”

(ga apa-apa, bapak sih mendingan melayani orang yang meminta secara sopan kepada saya daripada melayani preman-preman yang berlagak sok mau membeli tapi akhirnya tidak membayar ).

Lalu saya memberanikan diri untuk membuka pembicaraan dengan beliau…

Saya : ” Assalamu’alaikum Pak Haji, kumana damang Pajeng pa haji ?
(Assalamu’alakum Pak Haji, Gimana kabarnya? laku ya pak dagangannya? )

Penjual Bubur : ” Alhamdulillah Den, cekap kangge tuang mah…
(Alhamdulillah nak, cukup untuk makan sehari-hari)

Saya : ” Parantos sabaraha lami icalan didieu pa haji teh ?
(Sudah berapa lama bapak berjualan di sini pak?)

Penjual Bubur : ” Ti Taun 78 Den, Alhamdulillah mayeng.. Alhamdulillah tos tiasa angkat ka haji 2 x, putra tos jararanten sadayana… Alhamdulillah Den…
(Dari tahun 1978 nak, Alhamdulillah lancar… Alhamdulillah sudah bisa berangkat haji 2 x, anak saya semuanya sudah jadi orang.. Alhamdulillah nak.)

Saya : ” Rahasiana naon eta teh Pa Haji ?”
(Apa rahasianya pak haji?)

Penjual Bubur : “ULAH HILAP SHALAT DHUHA UNGGAL ENJING-ENJING INSYA ALLAH DIMUDAHKEUN URUSAN KU GUSTI NU MAHA SUCI
(Jangan lupa laksanakan Shalat Dhuha setiap pagi, Insya Allah dimudahkan segala urusan oleh ALLAH SWT)

Di dunia mah hirup mung sakedap den, ayeuna mah urang siap-siap weh nyanghareupan sakaratul maut, ulah silap ku harta banda, moal dicandak ka liang lahat. kade ulah nuang rezeki nu haram. Insya Allah disayang ku Gusti.
(Hidup di dunia hanya sebentar nak, sekarang kita harus bersiap-siap menghadapi sakaratul maut, jangan tergiur oleh kemewahan dalam mengejar harta benda duniawi, percuma, hal tersebut tidak akan kita bawa ke liang lahat. Hindari memakan rezeki yang haram. Insya Allah akan disayang oleh Allah SWT.)

Saya : Pa haji, upami tabuh 7 tos se’ep mah naha teu nyandak langkung bubur teh ? naha mung nyandak 5 kg wae
(Pa Haji, bila setiap hari jam 7 pagi dagangan sudah habis, kenapa ga bawa buburnya dilebihin aja dari 5 kg? kenapa hanya di pas ambil 5 Kg)

Penjual Bubur : Mun dilangkungan, sok kacandak deui ka bumi, janten mubah. Panginten rezekina ti ALLAH mung 5 kg sadinten, eta teh kacandak Rp. 1jt sadinten, upami dinten minggon tiasa kacandak Rp. 2 jt sadinten..
(Bila dilebihin, suka jadi mubazir, akhirnya terbawa kembali ke rumah. Mungkin rezekinya dari ALLAH hanya 5 KG sehari, itu juga Bapak bisa bawa pulang 1 juta rupiah sehari, apabila hari minggu bisa bawa pulang 2 Jt..

Allah senantiasa memberikan Rahmat-Nya kepada setiap makhluk yang dikehendaki- Nya. Bahkan kepada bapak yang sehari-harinya hanya menjual bubur ayam…

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman” (QS. Ar-Ruum(30): 37)

Apakah kita termasuk umat yang diberi rahmat dan hidayah-Nya ?
Hanya Kita sendiri yang bisa menjawabnya. …

*Seperti yang telah dituturkan oleh saudara Wawan Nirwana, almunus T. Geodesi ITB ’85 di milis IA-GD, dengan sedikit perubahan

Advertisements




TOGA (Taujih Untuk Para Pencari Ilmu bag.1)

25 11 2008

Toga, pakaian yang kita pakai sewaktu kita diwisuda dari sebuah institusi akademik. Betapa bangganya orang tua kita ketika melihat kita mengenakan pakaian “kebesaran” itu. Sampai sekarang, foto saya yang sedang mengenakan toga masih tetap dipajang di ruang tengah rumah orang tua saya :D.

Kebanyakan orang menyangka bahwa toga merupakan sebuah produk budaya dari peradaban Barat. Padahal, tahukah antum, toga merupakan warisan dari peradaban Islam yang agung di masa lalu. Toga merupakan pakaian yang diberikan oleh universitas-universitas Islam Andalusia bagi para penuntut ilmu di dalamnya yang telah dinyatakan berhasil lulus dari tempat tersebut. Ketika itu, para penuntut ilmu di universitas Islam Andalusia tidak hanya berasal dari kalangan Muslim. Banyak orang-orang non-Muslim Eropa yang juga menuntut ilmu di situ. Mereka adalah orang-orang pengagum peradaban Islam dan mencoba menggali ilmu di sana agar bisa dimanfaatkan di negerinya masing-masing. Ketika mereka telah lulus dari unversitas-universitas Islam tersebut, mereka kembali ke negeri mereka dengan sambil mengenakan pakaian toga. Mereka adalah orang-orang yang dibanggakan oleh bangsanya karena telah berhasil menuntut ilmu di unviersitas Islam. Dan toga, merupakan salah satu tanda bahwa mereka telah berhasil lulus dari universitas terbaik di masa itu.

Subhanallah…

Walaupun toga yang kita kenakan sewaktu di wisuda saat ini tidak langsung berasal dari universitas-universitas Islam di Andalusia, kita masih bisa tetap bangga terhadap produk kebudayaan Islam kita ini. Sebuah peninggalan dari sebuah peradaban agung yang berhasil memimpin dunia dalam waktu berabad-abad lamanya. . . yang kini sedang tidur dan menunggu untuk dibangunkan kembali oleh ummatnya. Tidak mudah untuk mengembalikan kejayaan Islam seperti masa itu lagi. Namun juga bukan berarti tidak mungkin. Yang seperti itu hanya bisa dilakukan oleh Muslimin yang mempunyai kebulatan ‘azzam dan kelurusan akidah, serta kesatuan langkah perjuangan,

Insya Allah.





Suatu Saat dalam Sejarah Cinta Kita

13 11 2008

suatu saat dalam sejarah cinta kita
raga tak lagi saling membutuhkan
hanya jiwa kita sudah lekat menyatu
rindu mengelus rindu

suatu saat dalam sejarah cinta kita
kita hanya mengisi waktu dengan cerita
mengenang dan hanya itu
yang kita punya

suatu saat dalam sejarah cinta kita
kita mengenang masa depan kebersamaan
kemana cinta kan berakhir
di saat tak ada akhir

(tulisannya Ust Anis Matta.  untuk sahabat-sahabat dekat di masa kuliah dulu,

Gibul, Fikri, Kang Imron, Jumadi –

semoga tetap enjoy ketika bertemu di waktu puluhan tahun yang akan datang, insya Allah)





Khutbah Rasulullah SAWW

4 11 2008

Khutbah Rasulullah SAWW di Jabal Rahmah 14 abad silam:

“Wahai umat manusia! Ketahuilah bahwa setiap nyawa dan harta seorang Muslim adalah suci, sesuci bulan dan tanah. Seorang Muslim tidak boleh mengambil hak milik saudaranya tanpa izin darinya. Kembalikanlah harta yang diamanahkan pada kalian kepada yang berhak. Janganlah kamu menzhalimi siapa pun, agar orang lain tidak menzhalimi kamu pula. Ingatlah bahwa sesungguhnya kamu akan bertemu Allah yang akan memperhitungkan segala perbuatanmu. Allah telah mengharamkan riba. Maka batalkanlah semua urusan yang melibatkan riba.

Berwaspadalah terhadap setan demi keselamatan agamamu. Karena dia telah berputus asa untuk menyesatkanmu dalam perkara-perkara besar, maka berjagalah agar kamu tidak mengikutinya dalam perkara-perkara kecil.

Wahai umat manusia! Sebagaimana kamu mempunyai hak atas istrimu, mereka juta mempunyai hak atas kamu. Jika mereka menunaikan hakmu, maka mereka berhak mendapatkan nafkah dalam suasana kasih sayang. Layanilah mereka dengan baik, dan berkemah-lembut lah terhadap mereka, karena sesungguhnya mereka adalah teman hidup dan penolong setiamu. Adalah hak kamu melarang mereka untuk tidak berselingkuh atau berzina.

Wahai umat manusia! Simaklah baik-baik pesanku ini. Sembahlah Allah, dirikanlah shalat lima kali sehari, berpuasalah di bulan Ramadhan, dan keluarkanlah zakat. Kerjakanlah ibadah haji sekiranya kamu mampu. Ketahuilah bahwa setiap Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain. Kamu adalah sama. Semuanya berasal dari Nabi Adam a.s., dan Adam dari tanah. Tidak ada seorang pun yang lebih mulia daripada yang lain kecuali dengan takwa dan amal shaleh.

Ingatlah, bahwa kamu akan menghadap Allah pada suatu hari untuk mempertanggungjawabkan apa-apa yang telah kamu kerjakan. Agar kamu tidak keluar dari jalan kebenaran sepeninggalku.

Wahai umat manusia! Tidak ada lagi nabi atau rasul sesudahku dan tidak ada pula agama baru. Oleh karena itu camkan dan pahamilah kata-kataku. Sesungguhnya aku tinggalkan bagimu dua pusaka. Sekiranya kamu berpegang pada dan mengikuti keduanya, niscaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Al-Qur’an dan Sunnahku.”

Khutbah Rasulullah SAWW diatas, merupakan rumusan cita-cita agung kemanusiaan
dan aktualisasi Islam sebagai resep hidup individu, sosial ekonomi maupun politik, yaitu Islam Kaffah
yang tidak berhenti pada keshalihan ritual semata, tetapi juga Islam yang mendatangkan keadilan dan kesejahteraan, Islam yang membuahkan harmoni
dan kasih sayang, Islam yang menjanjikan kebahagiaan dunia dan akhirat.





Maafkan, lalu Lupakan…

4 11 2008

Di dalam film yang berjudul Sang Murabbi (2008), KH. Rahmat Abdullah yang diperankan oleh Irwan Renaldi berkata kepada kakaknya (atau adiknya, saya lupa) yang sedang mempunyai masalah dengan dua orang preman teman menyabung ayamnya,

“Ada dua hal yang harus selalu kamu ingat, perbuatan baik orang lain terhadap kamu, dan perbuatan burukmu terhadap orang lain. Dan juga ada dua hal yang harus kamu lupakan, perbuatan buruk orang lain terhadap dirimu, dan perbuatan baikmu terhadap orang lain…”

Dua patah kalimat yang sederhana memang. Tapi itulah sebenarnya yang menjadi keluhuran akhlaq dan kunci komunikasi seorang Mukmin terhadap saudaranya yang lain, mudah memaafkan
dan berempati. Pada implikasinya, ternyata sepasang kalimat di atas tidak semudah mengucapkannya. Perlu kecerdasan emosi
yang tinggi untuk bisa melakukannya ^^. Kecerdasan emosi yang dibutuhkan pun akan berbeda, base on siapa objek yang sedang kita hadapi.

Dua patah kalimat diatas akan mudah kita aplikasikan dalam hidup kita apabila yang kita hadapi adalah orang-orang yang kita sayangi – dan juga menyayangi kita. Orang tua kita, saudara kandung kita, murabbi kita, teman dekat kita, atau istri kita, tentunya akan mudah bagi kita untuk memaafkan kesalahan-kesalahan mereka, berusaha mengingat-ingat kebaikan mereka, dan seterusnya. Namun, lain halnya apabila yang sedang kita hadapi adalah orang yang memang benar-benar banyak “merugikan” hidup kita. Bagaimana bisa kita mengingat-ingat kebaikan mereka dan melupakan keburukan-keburukan mereka sementara jumlah kebaikan yang telah mereka lakukan jauh lebih sedikit daripada keburukan yang telah mereka lakukan terhadap kita?

Dalam sebuah hadits diriwayatkan, Rasulullah SAWW suatu hari pernah menyebut-nyebut salah seorang sahabat beliau sebagai penghuni surga. Abdullah bin Amr bin Ash yang saat itu sedang bersama Rasulullah SAWW diliputi perasaan penasaran, bagaimana sang sahabat tersebut bisa disebut oleh Rasulullah SAWW sebagai penghuni surga. Ia pun akhirnya meminta izin kepada sahabat tersebut untuk ikut menginap di rumahnya agar ia bisa mengetahui amal shaleh apa yang menyebabkan sahabat tersebut disebut-sebut oleh Rasulullah SAWW sebagai penghuni surga. Kemudian sang sahabat pun mengizinkan.

Tiga malam telah dilalui, ternyata Ibnu Umar tidak melihat suatu yang istimewa dari sahabat tersebut dalam ibadahnya. Akhirnya, ia pun berterusterang kepada sang sahabat perihal keingintahuannya mengenai ibadah istimewa yang telah dilakukan sang sahabat yang membuatnya disebut penghuni surga oleh Rasulullah SAWW. Sang sahabat kemudian menjawab bahwa apa yang ia amalkan setiap hari tidak lebih dari apa yang Ibnu Umar saksikan. Hanya saja, ia kerap melakukan evaluasi diri
menjelang tidurnya setiap malam, lalu ia hapus semua rasa gundahnya pada sesama Muslim. Dengan itulah sang sahabat tersebut menjadi penghuni surga, bahkan ketika ia masih di dunia..

See? Tidak sulit menggapai kunci untuk menjadi penghuni surga. Namun juga tidak mudah. Maafkanlah kesalahan, lupakan, dan sebarkanlah kebaikan.

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan
(hartanya di jalan Allah), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya
dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal. (QS. Ali Imran 133-136)

(terinspirasi dari sebuah pengalaman pribadi: ada orang yang dirasa terusss merugikan hingga suatu saat orang tersebut melakukan sebuah kebaikan, yang dengannya Allah SWT menggetarkan hati ini, kemudian menggerakan tangan ini untuk menulis sesuatu. Alhamdulillah ‘alaa kulli haal)





Munajat

31 10 2008

Ya Allah, Engkaulah yang telah menciptakan Rasa ini dalam hatiku
Lalu Engkau yang menciptakan rasa sedih dan gelisah dalam hatiku

Engkaulah yang Maha Benar, Engkaulah yang Maha Berkehendak, Yang Maha Berkuasa, Maha Bijaksana
Lalu Engkaupun yang Maha Baik,,,Engkau telah memperlakukan ku sangat baik, Ya Allah,,,aku bersyukur kepadaMu,,,
Semua ini terjadi atas kehendak Mu,,,atas rencana sempurna yang Engkau buat,,,

Hamba ini hanyalah hambaMu,,,
Sedang Engkau adalah Tuhanku,,,

Hamba hanyalah hamba,,,
Engkau adalah Tuhan,,,

Ampuni dosa hamba,,,kekhilafan hamba,,,
Kuatkanlah keimanan hamba,,,ketaqwaan hamba,,,
Hamba memohon kepada Mu agar sedih dan gelisah ini menjadi kafarat atas dosa-dosa yang hamba lakukan,,,
Menjadi jalan bagi hamba untuk lebih dekat lagi kepada Mu,,,
Hamba memohon kebaikan dari segala yang sedang terjadi ini kepadaMu ya Allah,,,
Hamba berlindung dari keburukan yang dibawanya, ya Allah,,,

Cukuplah bagi hamba diriMu Ya Allah
Tempat mengadu, memohon, berlindung dan memohon pertolongan
Sesungguhnya hamba ridha terhadap segala yang Engkau lakukan
Radhiitu billaahi rabba, wa bil islaami diina, wa bi muhammadin nabiyya wa rasula
Sesungguhnya aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad saww sebagai nabi dan rasulku..

Hasbiyallah…Hilangkanlah sedih ini…Hilangkanlah gelisah ini…
Gantilah semua yang telah luput dengan yang terbaik bagiku di mataMu…
Aamiin Ya Allah..

Hamba berkhuznuzhan kepadaMu,,

sesungguhnya Engkau bersama prasangka hambaMu… ^_^

Juli, 2008

(friska,,, ichlas frisss,,, n_n)





oRang bodoh

17 10 2008

bada tahmid wa shalawat…

Ini adalah hidupku sekarang
Penuh dengan kegiatan, pikiran dan tanggungjawab yang tak pernah terpikirkan sebelumnya
Orang bilang, aku adalah aktifis

Hooh.. aku pun menghela nafas..
Ternyata tidak mudah yaa…
Disaat-saat tertentu, tanggungjawab ini terasa berat
Aku pun teringat pada masa lalu ku dulu
Menjadi orang yang biasa
Ya, orang biasa…

Ternyata hidup itu indah apabila di pikiran kita hanya memikirkan kepentingan kita saja
Keselamatan kita
Kesenangan kita

Tapi, bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak berbuat baik kepada manusia lain?
Bagaimana ini…..

Aku pun bertanya kepada diriku sendiri…
Mau kemanakah aku sekarang?
Kembali ke masa lalu yang penuh dengan kesenangan?
Atau ke masa dimana perang ideologi dan pertentangan kepentingan terus terjadi?
…..aku hanya diam,,,

Kini aku mengerti, mengapa Umar bin Khathab ra. sering menangisi segenggam tanah atau sebatang rumput…
Semakin tinggi kekuatan yang dimiliki, semakin berat tanggungjawab yang diemban…
Saat ini bukan waktunya untuk senang…
Kesenangan itu hanyalah pada saat kita menghadap Tuhan Yang Maha Agung dengan wajah yang berseri-seri…
(Ya Allaah…aku merindukan masa itu, Ya Rabbii………)

Orang itu bisa saja kelelahan…
Atau mungkin beristirahat sejenak…
Tapi bukan untuk berhenti disini
Perjalanan masih panjang
Dan tujuan harus selalu dikejar
Itu pasti…
Karena hanya oRang bodoh yang mau berkompromi dengan idealismenya sendiri

Bandung, April 2007

funfunfun