Mencintai Diri Sendiri

25 02 2009

Tumpukan buletin Jumat itu sudah menumpuk di salah satu sudut meja belajar. Saya jadi berpikir mungkin inilah waktunya bagi saya untuk memusnahkan lembaran-lembaran hikmah tersebut dengan cara membakarnya.

Membakarnya???

Iya. Karena diantara lembaran-lembaran hikmah tersebut banyak yang memuat kutipan ayat-ayat suci Al-Quran. Supaya ayat-ayat suci tersebut tidak tercecer, maka lembaran-lembaran tersebut harus dimusnahkan. Bukan bermaksud negatif loh. Amal itu tergantung pada niatnya.

Sambil mengumpulkan lembaran-lembaran tersebut, mata saya melihat-lihat isi lembaran-lembaran tersebut sekilas. Wah, ternyata diantara lembaran-lembaran itu terdapat sebuah kisah himah* yang pernah menjadi favorit saya di waktu kuliah dulu. Disitu tertulis tanggal 27 April 2007. Berarti sekitar dua tahun yang lalu lembaran itu dicetak, sewaktu saya masih kuliah di tingkat tiga.

Karena isinya lumayan bagus, jadi saya ingin mensharenya di blog ini. Berikut ini adalah isi dari lembaran tersebut. Jazakumullah untuk penulisnya. Semoga bermanfaat.^^

=============

Duh, koq aku gendut banget ya??

Duh, koq aku bodoh banget ya, ngerjain soal UTS aja ga bisa!

Mungkin kita sering sekali mendengar keluhan-keluhan seperti itu. Setiap orang biasanya mengeluhkan tentang diri mereka yang tidak sempurna. Kurang inilah, kurang itulah. Padahal jika kita menlilik lebih jauh lagi dan mencoba melihat diri kita dari sisi yang berbeda, kita akan melihat bahwa Allah SWT telah memberikan berbagai hal yang menakjubkan dan hanya ada pada diri kita, manusia.

Kadang kita tidak pernah menyadari bahwa diri kita diciptakan begitu kompleks. Begitu rumit. Milyaran sel yang telah menusun tubuh kita dengan jenis dan fungsi yang berbeda antara satu dan lainnya adalah bukti bahwa kita bukan diciptakan secara kebetulan, namun dengan keseriusan dan ketelitian tingkat tinggi.

Pernahkah Anda bayangkan, jika kita diciptakan oleh Allah SWT sebagai seekor tikus? Kita saja sebagai manusia terkadang merasa jijik pada tikus. Nah, jika kita diciptakan menjadi tikus, apa kita juga akan jijik pada diri kita sendiri? Dan apakah tikus jijik pada dirinya sendiri karena telah diciptakan menjadi seekor tikus?

Kedua mata sipit kita untuk melihat setiap hari, hidung kita yang tidak terlalu mancung untuk bernapas, kulit sawo matang kita yang senantiasa melindungi dari sengatan matahari, rambut keriting (bukan hasil rebonding) yang selalu melindungi kepala kita, adalah hal-hal yang sangat jarang kita syukuri. Terkadang kita selalu melihat sesuatu dari sisi negatifnya, padahal banyak sekali manfaat yang kita dapatkan jika kita mulai melihat dari sudut pandang yang lain, sisi positif dari diri kita.

Saya punya seorang teman. Tubuhnya relatif pendek dibandingkan dengan teman-temannya. Namun Ia selalu tersenyum kepada setiap orang. Ia tidak pernah merasa minder dengan tinggi badannya itu. Suatu hari Ia mengatakan sebuah kalimat yang membuat saya terhenyak, “Kita selalu mencari orang yang kita cintai, namun pernahkah kita mencoba mencarinya di depan cermin?”

Ya! Saat kita melihat ke dalam cermin, tampak seseorang yang sudah sangat kita kenal. Siapakah dia, yang sangat kotor dan memandang kita dengan pandangan yang begitu tidak bahagia? Itulah diri kita.

Tidakkah kita tergerak untuk mengasihinya?

Banyak sekali hal yang dapat kita lakukan untuknya. Saatnya kita mengurangi keluhan tentang kekurangan-kekurangannya dan merasa nyaman dengannya setiap saat. Dan Anda akan merasa sama hebatnya dengan orang lain.

Ada sebuah kata-kata bijak yang sangat saya sukai.

Seperti halnya adil tidak selalu harus sama, bukankah ideal juga tidak harus sempurna?

* Buletin Mingguan Salman IQRA!, Jumat 20 April 2007, Oleh Rifina Yanurita Afandi